Meneruskan alarm adalah kewenangan pemerintah setempat, bukan pakar dan pembuat buoy.
Bencana tsunami di Kepulauan Mentawai, Senin (25/10), menjadi bahan perdebatan di Jerman. Para ilmuwan tidak habis pikir mengapa sistem peringatan dini buatan negara itu gagal meminimalisasi jumlah korban.
Seperti yang dipaorkan BBC yang mewawancarai korban selamat, peralatan buoy (pendeteksi tsunami bawah laut) yang berharga 300 ribu euro perbuah itu tidak memberikan sinyal. Sekedar catatan, Jerman menghabiskan 45 juta euro guna membuat buoy yang disebar di Asia Tenggara pasca bencana tsunami 2004. Dengan begitu, wajar bila warga Jerman menaruh perhatian lebih terhadap bencana tsunami di Mentawai.
Majalah Jerman, Der Spiegel pun mencoba menelusuri fakta di baik tsunami yang menelan korban tewas lebih dari 400 jiwa tersebut. Mereka mengungkapkan, pada pukul 21.47 WIB atau 5 menit setelah terjadinya gempa bumi, Jakarta mengeluarkan peringatan tsunami. Namun, peringatan itu dicabut sekitar 1 jam kemudian, sedangkan gelombang tsunami sudah menerjang Mentawai.
“Gelombang di Kota Padang hanya mencapai 23 cm,” ujar Jorn Latuerjung, peneliti Pusat Kajian Geosains Jerman (GFZ) di Postdam dekat Berlin, seperti di kutip Der Speigel, kemarin. Fakta itulah yang membuat peringatan tsunami dicabut.
Masalah lainnya adalah sirene tak terdengar. Dalam hal ini, Indonesia dianggap yang bertanggungjawab karena meneruskan alarm adalah kewajiban pemerintah setempat, bukan pakar dan pembuat buoy.
Majalah itu juga memuat keluhan para ilmuwan Jerman terhadap pemahaman pemerintah Indonesia akan prosedur standard buoy buatan Jerman. Misalnya, utasan kabel ke darat digantung di pohon, bukan dibenamkan di tanah sesuai prosedur. Der Spiegel akhirnya menyimpulkan, kesalahan bukan terletak pada buoy, melainkan human error.
Der Spiegel juga memuat keterangan pakar gempa dari Pusat Pengawasan Bumi di Singapura, Kerry Sieh, yang mengatakan gempa di Sumatera berpotensi memiliki efek domino. Artinya, gempa selanjutnya mungkin terjadi dalam waktu dekat di Pulau siberut dengan kekuatan sekitar 8,8 pada skala Richter.
Harus Jujur
Saat menanggapi tudingan Der Spiegel , Kepala Program Operasi Ina Buoy Tsunami Early Warning System (TEWS) BPPT Wahyu Pandoe menjelasakan, sejak dipasang pada tahun 2008, buoy Jerman tidak pernah mengirimkan data ke buoy Indonesia. “Jerman juga harus jujur. Tidak ada knowledge transfer dari mereka dalam operasional buoy.”
Selain itu, resource recorder bouy Jerman yang menjadi otak untuk mendata adanya tsunami belum ada. Alat itu selalu ditanam di dasar laut. Ketika ada tsunami, rekaman akan terkirim ke buoy dan dipantulkan ke satelit. Data kemudian terbaca di stasiun TEWS Badan Metrologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dan stasiun TEWS BPPT.
“Yang terpasang itu sistem GPS di atas laut. Seharusnya dilengkapi resource recorder buoy di bawah laut. Jadi ini problemnya. Dan masalah ini sudah menjadi pembahasan internasional,” terangnya.
Kerja sama antara Indonesia dan Jerman memang baru akan dilaksanakan akhir tahun ini. Empat buoy Jerman yang dipasang di pantai barat Sumatera dan Selatan Jawa pun baru di serahkan Maret 2011.
Hal senada dikatakan Kepala Balai Teknologi Survei Kelautan BPPT Yudi Antasena. Menurutnya, sejak buoy Jerman dipasang di sekitar Mentawai, tidak pernah ada informasi atau data yang masuk ke stasiun TEWS BPPT. “Ya kami tidak tahu, karena buoy milik Jerman itu belum diserahkan ke Indonesia.”
Disadur dari Media Indonesia, 3 November 2010
Berminat untuk memiliki kliping digitalnya? email : rio_pede@yahoo.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar