Satu lagi fakta tentang kelautan perbincangan para ilmuwan. Disadari, berbarengan dengan fenomena perubahan iklim ektrem, ternyata sejak 1800 tingkat keasaman pada permukaan laut telah mencapai 30% dan membahayakan terumbu karang plankton kecil. Rantai makanan di laut terancam rusak.
Perubahan keasaman air laut ini semakin mendesak ditangani dan membutuhkan alat memonitor pengasaman.
The Partnership for Observation of the Global Oceans (POGO), yang mewakili 38 lembaga oseanografi dari 21 negara, bertekad memimpin konsorsium global yang disebut Oceans United. Para pemimpin negara di Beijing pada 3 -5 November, konsorsium ini siap mendesak pejabat pemerintah membantu menyelesaikan sistem observasi lautan yang terintegrasi pada 2015.
Dir Eksekutif POGO Dr Trevor Platt mengatakan sistem tersebut diyakini mampu memberikan gambaran akurat mengenai kondisi keasaman laut. Diharapkan, para ilmuwan dapat memecahkan kebingungan pencegahan dan penanggulangan perilaku alam yang semakin meresahkan.
"Hingga saat ini kita tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang bagaimana lautan berubah. Pinggiran pantai di dunia, tempat 40% manusia berada, justru terancam badai dan banjir," ujar Platt.
Lebih tragisnya kondisi itu tanpa dilengkapi informasi yang tepat. Sering kali manusia tidak berdaya untuk mengantisipasi dan mempersiapkan bahaya yang mungkin datang di masa depan. "Pertahanan terbaik kami adalah jaringan pengamatan lautan secara global," paparnya.
Alat yang disebut Global Earth Observation System of Systems tersebut diperkirakan membutuhkan dukungan dana sebesar US$10 juta - US$15 juta. Untuk sistem operasinya, US$5 juta harus disiapkan.
Platt memaparkan alat monitor keasaman tersebut akan memantau pola kehidupan laut, dan kutub es secara bersamaan. Tak hanya itu, berbagai variabel karakteristik laut lainnya bisa dilacak secara terus menerus melalui pengembangan teknologi perrmanen yang terintegrasi dalam pemantauan global.
"Ini adalah saatnya untuk serius mendapatkan pengukuran apa yang terjadi ke laut sekitar kita," timpal pendiri POGO, Jesse Ausubel.
Foundation for Ocean Science yang menyokong POGO meyakini kerusakan plankton tak hanya berbahaya bagi kerusakan laut, juga pengaturan iklim planet dan produksi oksigen.
Direktur yayasan itu, Dr Peter Burkill, mengatakan air yang dingin mempertahankan karbon dioksida lebih banyak. "Yang paling terancam dari pengasaman adalah kehidupan kecil di lautan yang membantu menyerap 50 giga ton karbon dari atmosfir bumi setiap tahun.
Ini jumlah yang hampir sama dengan semua tanaman dan pohon di tanah. Manusia memiliki kepentingan vital dalam otoritas informasi tentang kondisi laut dan jaringan global pengamatan laut.
Dr Kiyoshi Suywhiro menambahkan, monitoring global diperlukan untuk menyediakan informasi tepat waktu mengenai tren dan aliran air laut dari daerah tropis ke kutub.
Menurutnya, dalam kerja sama global, tak hanya AS dan Uni Eropa dibutuhkan untuk mengumpulkan, menyintesis, dan menafsirkan data penting kelautan untuk berbagai kebutuhan manusia.
Disadur dari Media Indonesia, 3 November 2010
Berminat untuk memiliki kliping digitalnya? email : rio_pede@yahoo.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar