Pages

Toko Buku Online Terlengkap

Minggu, 05 Desember 2010

Baobab dan Investasi Kehidupan


Ada benih-benih tanaman mengerikan di planet pangeran kecil, ia adalah benih pohon baobab. Jika planetnya terlalu kecil dan baobab-nya terlalu banyak, mereka akan membuat planet itu meledak. (The Little Prince, Antoine de Saint Exipery)
Pohon kehidupan, pohon keabadian. Itulah julukan African baobab, yang dalam bahasa latin disebut Adansonia Digitat dan dalam bahasa local dijuluki asem buto atau ki tambleg. Bukannya tanpa alasan penamaan-penamaan itu. Baobab selalu menemukan jalan untuk tumbuh kembali meski dipangkas, terbakar api, atau bahkan tersambar petir. Usianya pun bisa mencapai ribuan tahun. Bardasarkan analisa karbon, sebuah pohon baobab di Kariba diketahui berumur hingga 1.050 tahun.
Dari daun hingga buah, ia bermanfaat. Vitamin C yang dikandungnya bisa 3 hingga 6 kali kandungan pada jeruk. Ada pula kandungan kalsium yang tak berbeda dengan susu, daunya kaya mineral, bunganya bisa untuk sayur, batangnya pun penuh dengan  air yang mengandung zat phytopharma.
Pohon ini tidak pernah pula terkena benalu kendati pada masa-masa tertentu tidak berdaun. Riset di Amerika mengungkapkan, baobab merupakan bahan pangan yang sangat direkomendasikan.
Di Subang, Jawa Barat, baobab tumbuh subur. Ada yang ditanam penjajah Belanda pada 160 tahun lalu, bahkan satu dua diperkirakan berusia 700 tahun. Perkiraan itu berdasarkan perspektif historis bahwa Subang merupakan salah satu pusat perdagangan Timur Tengah semasa penyebaran Islam.
Saat itu, selain menyebarkan agama, para pedagang  Arab menyebarkan benih-benih baobab. Baobab berukuran terbesar ditemukan di Afrika dengan lingkar luar 75 meter. Di dalamnya bahkan dibuat restoran.
Atas dasar keunggulan-keunggulan itulah dijalin kerja sama antara Universitas Indonesia dan PT Sang Hyang Seri demi konservasi baobab. Konservasi itu berawal dari inisiatif Rektor UI Gumilar Rusliwa Somantri yang terinspirasi sebuah literature di Jerman tentang super fruit. Ide itu kemudian ia sampaikan kepada Eddy Budiono, Direktur Utama PT Sang Hyang Seri, yang kebetulan memiliki super fruit baobab. Sebanyak 12 ki tambleg berdiri angkuh di kawasan PT Sang Hyang Seri, Sukamandi Subang, rata-rata berdiameter 4,5 meter dengan tinggi 30 – 40 meter.
Kerja sama juga didasarkan atas keprihatinan mereka pada pertumbuhan penduduk yang semakin besar yang memicu food insecurity. “Ada prospek asem buto ini disebarluaskan dan dibudidayakan untuk bahan pangan, minuman, pendidikan dan riset,” ujar Gumilar kepada wartawan di Subang, kemarin.
Seperti bonsai dalam ukuran raksasa, baobab seolah pohon terbalik karena memiliki dahan yang menyerupai akar yang menjuntai ke langit. Pohon-pohon ini akan dipindahkan ke kawasan UI, Depok. Dari 12 pohon, UI meminta PT Sang Hyang Seri mengibahkan lima pohon.
Proses pemindahan akan dilakukan bertahap mulai hari ini. Dengan ukuran raksasa, dibutuhkan alat pengangkut raksasa pula.
Dari lima pohon, dua diantaranya butuh kontainer berkapasitas 70 ton beroda 24 untuk menempati rumah baru di dekat Perpustakaan UI.
“Pohon baobab ini merupakan pohon kehidupan, keabadian yang dapat membangun peradaban. Sama halnya dengan perpustakaan yang merupakan symbol kehidupan peradaban,” jelas Gumilar.

Disadur dari Media Indonesia, 3 November 2010
Berminat untuk memiliki kliping digitalnya? email : rio_pede@yahoo.com 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SentraClix

Cari di Blog ini...