Pages

Toko Buku Online Terlengkap

Kamis, 16 Desember 2010

Robin Li Yanhong – Raja Mesin Pencari internet di China


“Misi kami adalah memberikan cara-cara terbaik bagi orang banyak untuk mendapatkan informasi. Untuk melakukan ini, kami terlebih dahulu mendengarkan dengan cermat setiap kebutuhan dan keinginan para pengguna.”

Pendiri, pemilik, dan CEO Baidu Inc, Robin Li Yanhong, mengucapkan hal itu dengan keyakinan dan percaya diri. Dia telah membuktikannya melalui Baidu, mesin pencari internet nomor satu di China yang kini melesat ke tiga besar dunia setelah Google dan Yahoo.
Keingintahuan, inovasi, kretivitas, dan kerja keras telah mengantarnya menjadi orang kaya baru di Negeri Tirai Bambu. Majalah Forbes edisi terbaru, pekan lalu, bahkan memasukkan Robin Li sebagai satu dari dua orang terkaya China selain Zong Qinghou, pengusaha minuman ringan.
Li telah masuk dalam deretan orang kaya di dunia. Dia berada dalam satu rentang daftar orang kaya bersama dengan pendiri Google, Sergey Brin dan Larry Page. Kekayaan Li naik hamper tiga kali lipat atau 281 persen menjadi 7,2 miliar dollar AS tahun lalu. Kekayaan itu mendongkraknya naik ke urutan kedua dari sebelumnya di urutan kedua daftar orang kaya di China. Setelah Google hengkang dari China, Baidu kian kinclong. Keuntunganan bersih Baidu naik 112,4 persen per tahun.
Saham Baidu sejak Januari 2005 hingga Juni 2006 melonjak melampaui 50 persen. Pada 2008, sahamnya naik menjadi 62 persen, lalu meroket menjadi 76 persen pada 2009. Mulai Desember 2007, Baidu menjadi perusahaan China Pertama dalam indeks Nasdaq-100.
Berkat kegigihan Li, Baidu terus memperoleh pansa pasar di China, terutama lagi karena adanya dukungan dari pemerintah. Pada kuartal ketiga tahun 2010, Baidu menguasai pangsa pasar internet Yahoo dan Google yang telah tutup untuk pasar domestik China.

Bermula dari “kebetulan”
Evolusi Baidu, dan perjalanan Li sebagai pengusaha, merupakan contoh keberhasilan di bidang bisnis serta keuletan dan ketabahan seorang pengusaha. China memiliki penduduk 1,3 miliar. Robin Li tahu benar potensi pasar dalam negeri China. Saat ini ada 420 juta pengguna internet di China, atau sekitar sepertiga total penduduknya, dan 70 persen diantaranya adalah para pengunjung Baidu.
Total populasi pengguna internet itu merupakan peluang besar, menjadi saingan AS. Apalagi China telah menjadi raksasa ekonomi dunia yang bertumbuh paling cepat. Model Baidu yang dikembangkan Li bekerja superbaik tanpa masalah berarti dan loyal pada kebutuhan pengguna.
Prestasi bisnis Li bermula dari “kebetulan” pada musim panas tahun 1998 di Silicon Valley, Amerika Serikat. Saat itu, Eric Xu, seorang ahli biokimia, memperkenalkan rekannya yang pemalu, Robin Li, kepada Jhon Wu yang kemudian menjadi ketua tim mesin pencari Yahoo.
Li, yang ketika itu masih berusia 30 tahun, sedang frustasi. Dia hanya seorang anggota staf di Infoseek, sebuah mesin pencari internet milik Disney. Komitmen Disney untuk mengembangkan Infoseek lambatlaun terus memudar dan hal itu membuat Li frustasi hingga ia terdorong untuk menemukan caranya sendiri. Setahun setelah piknik ke Silicon Valley, pada 1999, Li bersama Eric Xu lalu mendirikan perusahaan pencari bernama Baidu. Kini, Baidu telah mempunyai nilai pasar sekitar 3 miliar dollar AS, menjadi empat besar website dunia yang paling diminati pengguna internet.
Nama Baidu terinspirasi oleh sebuah puisi yang diitulis lebih dari 800 tahun silam di China, tepatnya pada masa Dinasti Song yang berkuasa tahun 960-1279 Masehi.
Baidu, secara literal berarti “ratusan kali”, mempresentasikan sebuah “pencarian yang gigih terhadap apa yang dicita-citakan”. Baidu adalah puncak dari pencarian tiada henti, kerja  keras, dan ketabahan dari seorang yang frustasi menjadi sukses mengubah hidup serta menjadi salah satu orang terkaya di dunia. Dialah Robin Li.
Untuk meningkatkan pengalaman para pengguna, Li terus melakukan perbaikan produk dan layanannya. “Sebagai sontoh, kami memperkenalkan ‘fonetik’ atau ‘pin-yin’ pencarian yang memungkinkan para pengguna untuk mengetik kata kunci dalam bahasa China menggunakan abjad Inggris,” katanya.
Li berasal dari Yangquan, kota miskin di Provinsi Shanxi, barat daya Beijing. Anak keempat dari lima bersaudara itu dibesarkan dalam suasanan revolusi budaya China yang brutal.
Sekalipun penindasan mengepungnya, ia focus pada minatnya sebagai pengoleksi prangko. Ia terlibat pertunjukan opera tradisional dan kegiatan lainnya hingga akhirnya terjun ke dunia computer.
Li cukup cerdas ketika masuk perguruan tinggi paling bergengsi di China, Universitas Peking. Dia mengambil jurusan ilmu perpustakaan dan berkecimpung dalam ilmu computer. Ia mendapat Bachelor of Science (BSc) dalam Informasi Manajemen (1991).
Setelah lulus, Li meninggalkan tanah airnya yang sedang kacau menyusul peristiwa Lapangan Tiananmen. Di hijrah ke AS untuk belajar computer. “Saya mengirimkan lebih dari 20 surat lamaran,” katanya. Dia kemudian diterima di State Univerisity of New York, Buffalo. Setelah meraih gelar Master of Science (MCs) dalam Ilmu Komputer (1994) dan langsung bergabung dengan New Jersey Dow Jones & Company, Li mengembangkan program perangkat lunak untuk edisi online The Wall Street Journal.
Selama di AS dia terus mengikuti perkembangan teknologi di Silicon Valley. Terobosan mengejutkan muncul pada 1996 ketika Li berhasil mengembangkan mekanisme pencarian yang disebut link analysis.
Li lalu bekerja sebagai staf Infoseek, pelopor internet perusahaan mesin pencari (1997-1999). Dia juga menjadi konsultan senior untuk IDD Information Service (1994-1997). Saat di Infoseek itulah dia merasa frustasi.
“Lalu lintas Baidu terus meningkat. Kami sekarang menjadi mesin pencari nomor satu di China,” kata Li bangga.

Disadur dari Kompas, 5 November 2010
Berminat untuk memiliki kliping digitalnya?  
atau butuh kliping dengan tema lainnya? email : rio_pede@yahoo.com

Rabu, 15 Desember 2010

Perampokan Bersenjata Makin Meresahkan

Tiap Bulan di Depok Terjadi Satu Perampokan Bersenjata


Perampokan dengan senjata api semakin meresahkan warga Depok. Kali ini perampokan terjadi di Perumahan Pelni, Kelurahan Bakti Jaya, Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok, Jawa Barat. Perampok masuk rumah Nani Ahyat (50), Senin (1/11) dini hari, setelah merusak jendela.
Pelaku menyekap penghuni rumah kemudian membawa kabur mobil Honda Jazz dengan nomor polisi B3733 ANY. Tidak hanya itu, perampok juga membawa berlian senilai 25 juta, empat telepon seluler berbagai merek, dan uang tunai senilai Rp 2 juta.
“Saya kaget, ada orang di dalam rumah langsung mengancam saya dengan senjata. ‘Masuk!’ katanya menyuruh saya masuk kamar. Saya takut, saya turuti saja apa katanya,” tutur Nani Ahyat, seusai perampokan berlangsung.
Nani mengatakan, perampok masuk ke rumahnya pukul 04.15, ketika dia akan mengambil wudhu untuk shalat subuh. Perampok berperawakan kecil, bertopi coklat itu masuk melalui jendela samping rumah yang terhubung dengan garasi.
Pelaku perampokan itu tidak melukainya, tetapi bentakan dan ancaman penodonga membuat Nani ketakutan.
Selain dia, di rumah itu saat kejadian ditempati Ricky Maulana (menantu, 34 tahun), Yeni (anak, 32 tahun), Deliza (cucu, 25 hari), dan Aris (anak, 34 tahun).
Setelah masuk rumah, pelaku langsung masuk ke kamar yang ditempati anaknya, Yeni, serta Ricky dan Deliza.
Di kamar tersebut, pelaku menodongkan senjata kea rah Ricky kemudian meminta tidak bergerak dan tengkurap. Yeni yang sedang menyusui anaknya tidak dapat berbuat apa-apa.
Perampok meminta perhiasan, uang, dan barang berharga lainnya. Kebetulan, di meja kamar tersebut terdapat telepon selular dan kunci mobil, perampok langsung membawanya. Setelah membawa barang berharga dari kamar, perampok menyekap Ricky, Yeni, dan Deliza dengan mengunci mereka dari luar kamar. Baru kemudian perampok bertemu Nani di depan pintu kamarnya.
“Pistolnya seperti milik pak polisi itu,” kata Yeni seraya menunjuk pistol yang bawa petugas kepolisian di lokasi kejadian. Yeni menduga peristiwa ini dilakukan lebih dari seorang. Yeni mendengar ucapan pelaku yang mengatakan, “Sebentar Bang.” Pelaku, katanya, seperti berbicara dengan orang diluar rumah.
Berlangsung cepat
Proses perampokan di rumah Nani berlangsung kurang dari 30 menit. Ricky, menantu Nani, mengatakan, pencurian ini meninggalkan tanda Tanya. Dia heran mengapa pelaku mengincar rumah Nani, sementara tetanggga di sisi utara memiliki dua mobil. Keanehan berikutnya adalah keputusan pelaku langsung memasuki kamar yang ditempatinya bersama istrinya, Yeni, dan anaknya.
Ricky menduga pelaku merupakan orang suruhan yang mengenal betul kondisi rumah. “ Saya tidak bisa menyebut nama, karena tidak ada bukti langsung,” tutur Ricky.
Peristiwa ini membuat tetangga Nani kaget. Semalaman Dewi (67), tetangga Nani, tidak mendengar suara yang mencurigakan. Dewi baru mengetahui ada perampokan sekitar pukul 05.00. Kemudian anaknya, Judarman, mengantar Ricky melaporkan kejadian ini ke Markas Kepolisian Resor Metro Depok.
Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Metro Depok Komisaris Ade Rahmat Idnal mengatakan, modus pelaku mirip dengan kasus serupa di Depok. Di wilayah Kota Depok, perampokan dengan menggunakan senjata api sudah terjadi 3 kali dalam 3 bulan terakhir.
Sebelumnya, perampokan mobil terjadi di Kecamatan Cimanggis (24 Agustus) dan Kecamatan Cilodong (5 September). Di Kecamatan Cimanggis perampok berhasil membawa kabur Toyota Innova, sedangkan di Kecamatan Cilodong membawa kabur Honda Jazz.
Semua kejadian berada di perumahan penduduk dengan waktu kejadian dini hari. Tiga peristiwa ini juga memiliki kesamaan modus, pelaku menodongkan senjata api ke penghuni rumah. Dari semua peristiwa ini belum pernah ada korban jiwa maupun luka.
“Saya kira ada kaitannya kejadian di Cimanggis, Cilodong dan Sukmajaya. Kami tengah menelusuri jejak pelakunya,” kata Ade.

Disadur dari Kompas, 2 November 2010
Berminat untuk memiliki kliping digitalnya?  
atau butuh kliping dengan tema lainnya? email : rio_pede@yahoo.com

Pemerintah Janji Akan Benahi


Enam Persoalan Menghadap Bisnis Properti
Pemerintah berjanji akan serius menangani persoalan penyediaan perumahan rakyat. Saat ini terdapat enam isu yang menjadi persoalan dalam pengembangan bisnis perumahan. Tugas dan kewajiban pemerintah menyediakan rumah bagi rakyat, khususnya bagi yang tak mampu.
Demikian dikatakan Wapres Budiono dalam pembukaan Munas Real Estate Indonesia ke-13 di Jakarta, Selasa (9/11). Boediono mengakui, kebijakan perumahan kerap terkendala sinergi anta pemerintah serta antara pemerintah dan pelaku usaha.
Dari sisi pemerintah, ujar Boediono , tidak dimungkiri belum terjadi koordinasi yang efektif antara sektor properti dan sector keuangan. Padahal, sektor keuangan. Persoalan rumah bukan hanya terkait dengan berapa jumlah rumah yang tersedia dan bisa dibeli atau tidak, melainkan keberlanjutan kebijakan dari sisi makro.
Selain itu, lanjut Wapres, birokrasi perizinan dan ekonomi biaya tinggi telah membebani pelaku usaha. Pembangunan yang tidak terencana serta tidak diikuti dengan tata ruang dan tat kota yang baik juga menimbulkan kesemerawutan.
Ada daerah yang sudah berproses membuat tata ruang selama lebih dari sepuluh tahun, tetapi belum dijadikan ketentuan. Ada pula tata ruang yang sudah di atas kertas, tetapi tidak dilaksanakan.
Diperlukan kebijakan tata ruang yang rasional, bukan di atas kertas. “Pemerintah perlu melakukan intropeksi terkait sejumlah kelemahan dalam kebijakan perumahan. Kelemahan kebijakan harus dituntaskan dan kebijakan harus disinergikan dengan pelaku usaha,” ujar Wapres Boediono.
Ia menambahkan, pelaku usaha perumahan perlu melihat apa yang bisa dikontribusikan untuk mencapai sasaran bersama. Terdapat aspek-aspek non pasar penyediaan rumah rakyat yang membutuhkan peran pengembang.
Tabungan perumahan
Sementara itu, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat REI Teguh Satria mengemukakan, terdapat enam persoalan yang masih menghadang pembangunan bisnis property. Pertama, kepastian hokum, khususnya menyangkut hak kepemilikan atas tanah.
Kedua, proses perizinan yang panjang dan berbelit-belit berdampak pada biaya tinggi yang pada akhirnya ditanggung konsumen. Lamanya proses perizinan itu bisa mencapai satu tahun.
“Saat ini hampir di semua kabupaten/kota diberlakukan per izinan satu atap, tetapi dalam satu atap masih banyak pintu,” ujarnya. Persoalan ketiga adalah pembiayaan yang terganjal ketidaksesuaian (mismatch) dana jangka pendek perbankan untuk membiayai kredit jangka panjang perumahan. Untuk itu, diperlukan terobosan pembiayaan melalui tabungan wajib perumahan (taperum).
Masalah yang juga mengganjal adalah penyediaan rumah sejahtera susun yang dulu bernama rusunami. Hingga kini, pembangunan rusun itu tersendat karena tidak ada insentif dari pemerintah.
Kendala kelima adalah rencana tata ruang bawah tanah yang sulit diterapkan serta kepemilikan property untuk orang asing.
Menteri Perumahan Rakyat Suharso Monoarfa mengatakan, taperum yang mewajibkan setiap penduduk Indonesia memberikan tabungan perumahan sudah diatur dalam undang-undang.
Keberadaan taperum akan mengurangi beban APBN serta menekan suku bunga kredit perumahan. Sejauh ini, langkah menghimpun dana perumahan sudah diterapkan Badan Pertimbangan Tabungan Perumahan Pegawai Negeri Sipil, TNI, Polri, dan PT Jamsostek.
Empat kandidat telah secara resmi mencalonkan diri pada pemilihan Ketua Umum REI periode 2010-2013, yaitu Alwi Bagir Mulachella, Joko Slamet Utomo, Muh Nawir, dan Setyo Maharso. Munas REI ditutup pada hari Kamis.

Disadur dari Kompas, 10 November 2010
Berminat untuk memiliki kliping digitalnya? email : rio_pede@yahoo.com

Selasa, 14 Desember 2010

Motor Tidak Bisa Distop


Pemerintah Seolah-olah Kehilangan Arah. Ledakan penjualan sepeda motor yang pada tahun ini diperkirakan 7,2 juta – 7,3 juta unit merupakan efek dari stagnannya pembangunan transportasi massal. Angka  penjualan sepeda motor itu jangan sekedar direfleksikan sebagai tumbuhnya ekonomi di Indonesia.
Demikian dikatakan pengamat transportasi Rudy Thehamihardja, Kamis (4/11) di Jakarta. “Saat ini, nyaris mustahil untuk mencegah makin melonjaknya jumlah sepeda motor. Dan, mau tidak mau, kita harus terima jalan raya kita makin terkooptasi oleh sepeda motor,” katanya.
Namun, kondisi ini, lanjutnya, disababkan oleh pemerintah yang seolah kehilangan arah untuk mencegah membludaknya sepeda motor.
“Coba lihat, andai pemerintah punya visi, pastinya akan dijabarkan dengan angka. Berapa penambahan kapasitas angkut transportasi massal dalam lima tahun, misalnya, dan berapa angka pemurunan sepeda motor yang melaju di jalan raya dalam lima tahun,” ujarnya.
Rudy mengatakan, sudah sejak lama diingatkan kepada pemerintah untuk membenahi transportasi massal. Hal termudah seperti pembenahan dan rekayasa trayek saja, kata Rudy, tak kunjung dikerjakan. Padahal, lanjutnya, sudah dua tahun terakhir ini terus didengungkan usulan itu.
“Sepertinya, pemerintah tersandera oleh urusan trayek ini. Ada apa dengan itu? Padahal, rekayasa trayek sangat membantu, terutama menurunkan beban rakyat untuk mengalokasikan uangnya untuk transportasi,” kata Rudy.
Dia menegaskan, pelarangan apa pun terkait pembatasan jumlah sepeda motor tidak akan efektif. Sebab, urusannya lebih pada kondisi ekonomi masyarakat, begitu pula dengan waktu tempuh sepeda motor yang lebih singkat.
Ahli transportasi dari Unika Soegijapranata, Djoko Setijowarno, mengingatkan, meski sepeda motor harganya murah dan waktu tempuhnya lebih cepat, pengendaranya selalu diancam maut.
“Bila ingin ada pengaturan yang lebih baik, keselamatan itu yang harus dijamin. Produsen sudah memberikan helm tiap kali pembelian motor. Pemerintah telah menetapkan SNI (Standar Nasional Indonesia), tapi itu tidak cukup,” ujarnya.
Tidak hanya di Jakarta
Djoko menegaskan, angka penjualan sepeda motor tidak mungkin dibatasi. “Hak asasi manusia untuk membeli kendaraan, apalagi bila memang ada dana untuk itu. Tapi, yang paling penting adalah bagaimana membatasi jumlah kendaraan yang melintas di jalan raya,” kata Djoko.
Ia mengatakan, jumlah sepeda motor tidak hanya melonjak di Jakarta, tetapi juga di kota-kota besar lain.
“Bila pagi hari, dari timur dan selatan Semarang melaju ratusan motor menuju pusat Kota Semarang. Begitu pula bila pagi dari selatan dan timur Yogyakarta, masuk ke pusat Yogyakarta,” lanjutnya.
Menurut Djoko, hal efektif untuk mencegah kecelakaan dan mencegah masyarakat menggunakan sepeda motor untuk perjalanan jauh adalah membatasi daya mesin dan kecepatan secara elektronis.
“Bila diamati, mesin sepeda motor selalu meningkat. Dari 100cc jadi 125cc, bahkan kini banyak yang 250cc. Bila dibatasi jadi 70cc dan kecepatan ditahan secara elektronis, kecepatan pasti berkurang dan kecelakaan lebih minim,” kata Djoko.
Asosiasi Industri Kendaraan Sepeda Motor Indonesia memperkirakan penjualan sepeda motor akan tumbuh 12,5-15 persen per tahun. Dengan demikian, pada tahun 2014 penjualan sepeda motor di Indonesia bisa mencapai 10 juta unit.
Akibat membludaknya jumlah sepeda motor, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Namun, ide itu mendapat banyak tentangan dari sebagian masyarakat pengguna sepeda motor.

Disadur dari Kompas, 5 November 2010
Berminat untuk memiliki kliping digitalnya? email : rio_pede@yahoo.com

Senin, 13 Desember 2010

Mekanisme Buoy tidak Berjalan


Meneruskan alarm adalah kewenangan pemerintah setempat, bukan pakar dan pembuat buoy.

Bencana tsunami di Kepulauan Mentawai, Senin (25/10), menjadi bahan perdebatan di Jerman. Para ilmuwan tidak habis pikir mengapa sistem peringatan dini buatan negara itu gagal meminimalisasi jumlah korban.
Seperti yang dipaorkan BBC yang mewawancarai korban selamat, peralatan buoy (pendeteksi tsunami bawah laut) yang berharga 300 ribu euro perbuah itu tidak memberikan sinyal. Sekedar catatan, Jerman menghabiskan 45 juta euro guna membuat buoy yang disebar di Asia Tenggara pasca bencana tsunami 2004. Dengan begitu, wajar bila warga Jerman menaruh perhatian lebih terhadap bencana tsunami di Mentawai.
Majalah Jerman, Der Spiegel pun mencoba menelusuri fakta di baik tsunami yang menelan korban tewas lebih dari 400 jiwa tersebut. Mereka mengungkapkan, pada pukul 21.47 WIB atau 5 menit setelah terjadinya gempa bumi, Jakarta mengeluarkan peringatan tsunami. Namun, peringatan itu dicabut sekitar 1 jam kemudian, sedangkan gelombang tsunami sudah menerjang Mentawai.
“Gelombang di Kota Padang hanya mencapai 23 cm,” ujar Jorn Latuerjung, peneliti Pusat Kajian Geosains Jerman (GFZ) di Postdam dekat Berlin, seperti di kutip Der Speigel, kemarin. Fakta itulah yang membuat peringatan tsunami dicabut.
Masalah lainnya adalah sirene tak terdengar. Dalam hal ini, Indonesia dianggap yang bertanggungjawab karena meneruskan alarm adalah kewajiban pemerintah setempat, bukan pakar dan pembuat buoy.
Majalah itu juga memuat keluhan para ilmuwan Jerman terhadap pemahaman pemerintah Indonesia akan prosedur standard buoy buatan Jerman. Misalnya, utasan kabel ke darat digantung di pohon, bukan dibenamkan di tanah sesuai prosedur. Der Spiegel akhirnya menyimpulkan, kesalahan bukan terletak pada buoy, melainkan human error.
Der Spiegel juga memuat keterangan pakar gempa dari Pusat Pengawasan Bumi di Singapura, Kerry Sieh, yang mengatakan gempa di Sumatera berpotensi memiliki efek domino. Artinya, gempa selanjutnya mungkin terjadi dalam waktu dekat di Pulau siberut dengan kekuatan sekitar 8,8 pada skala Richter.

Harus Jujur
Saat menanggapi tudingan Der Spiegel , Kepala Program Operasi Ina Buoy Tsunami Early Warning System (TEWS) BPPT Wahyu Pandoe menjelasakan, sejak dipasang pada tahun 2008, buoy Jerman tidak pernah mengirimkan data ke buoy Indonesia. “Jerman juga harus jujur. Tidak ada knowledge transfer dari mereka dalam operasional buoy.”
Selain itu, resource recorder bouy Jerman yang menjadi otak untuk mendata adanya tsunami belum ada. Alat itu selalu ditanam di dasar laut. Ketika ada tsunami, rekaman akan terkirim ke buoy dan dipantulkan ke satelit. Data kemudian terbaca di stasiun TEWS Badan Metrologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dan stasiun TEWS BPPT.
“Yang terpasang itu sistem GPS di atas laut. Seharusnya dilengkapi resource recorder buoy di bawah laut. Jadi ini problemnya. Dan masalah ini sudah menjadi pembahasan internasional,” terangnya.
Kerja sama antara Indonesia dan Jerman memang baru akan dilaksanakan akhir tahun ini. Empat buoy Jerman yang dipasang di pantai barat Sumatera dan Selatan Jawa pun baru di serahkan Maret 2011.
Hal senada dikatakan Kepala Balai Teknologi Survei Kelautan BPPT Yudi Antasena. Menurutnya, sejak buoy Jerman dipasang di sekitar Mentawai, tidak pernah ada informasi atau data yang masuk ke stasiun TEWS BPPT. “Ya kami tidak tahu, karena buoy milik Jerman itu belum diserahkan ke Indonesia.”



















Disadur dari Media Indonesia, 3 November 2010
Berminat untuk memiliki kliping digitalnya? email : rio_pede@yahoo.com

Rabu, 08 Desember 2010

Mancung Bukan Hidung Ideal


Di Indonesia, orang-orang yang berhidung pesek atau kurang mancung memilih operasi hidung dami meninggikan sang hidung agar tampil lebih menarik. Nah, di Iran banyak orang justru menjalani operasi hidung agar tidak terlalu mancung dan lebih ramping.
Selama perjalanan di Iran, kami biasa menyaksikan mereka yang habis operasi hidung, baik laki-laki maupun perempuan, berktivitas di tempat umum lengkap dengan hidung tertutup plester.
Tempelan plester di hidung seolah menyerukan kepada publik bahwa mereka telah menjalani operasi plastik untuk membenahi hidung. Mereka menganggapnya sebagai plester kehormatan, mengingat operasi hidung menjadi impian banyak warga Iran. Mereka bangga sekali dengan adanya tempelan plester itu.
Plester itu bak simbol status karena semula hanya orang-orang berduit yang mampu menjalani operasi hidung. Alhasil, ada sebagian orang tidak mampu yang nekat memplester hidungnya agar dianggap telah menjalani operasi hidung, Jadilah, mereka membiarkan plester hidung palsu itu melekat hingga bertahun-tahun.
Sering kali tempelan plester itu mendatangkan obrlan panjang. Ada yang bertanya soal dokter, di mana, berapa lama waktu operasi, dan tentu saja biayanya. Tidak ketinggalan pertanyaan tentang sakit tidaknya hidung yang dioperasi.
Padahal, tanpa operasi hidung pun umumnya orang-orang Iran bertampang menarik. Mudah sekali menemukan laki-laki ganteng dan perempuan cantik. Sebagai bangsa ras Asia, mereka dikaruniai mata lebar, kulit berwarna terang, dan profil menawan. Di negeri itu, malah susah mencari orang yang bertampang ala kadarnya.

Kurang puas
Namun, rupanya mereka masih kurang puas dengan penampilan fisik tersebut. Mereka tetap ingin tampil lebih rupawan. Bagi mereka, kekurangan utama adalah hidung. Tidak dapat dipungkiri, hidung mereka memang terlalu mancung dan banyak yang kurang ramping. Hidung mereka rata-rata lebih besar ketimbang orang-orang Eropa, apalagi bagi orang-orang Asia lainnya. Bahkan, banyak yang berhidung betet.
Dalam literature klasik Iran, yang semuanya karya para pujangga laki-laki, perempuan cantik adalah mereka yang berambut hitam ikal, mulut kecil, alis panjang bak busur, mata besar laksana biji buah almond, hidung mungil, dan pinggang sangat ramping.
Sejak televise dan film Barat menayangkan bintang-bintang cantik serta menawan, standard kecantikan di negei itu pun perlahan bergeser. Bagi mereka, wajah seperti para bintang itulah kecantikan yang sempurna.Jadi, mereka ingin memiliki wajah seperti para bintang itu. Wajah dengan hidung mungil seperti yang digambarkan dalam karya sastra klasik mereka.
Menurut mereka, hidung ideal adalah yang ramping dan lebih kecil. Tidak jauh dari penampilan artis-artis Hollywood, boneka Barbie, atau majalah-majalah fashion Barat. Alhasil, mengurangi ukuran hidung dianggap sebagai solusi tepat dalam memperindah penampilan.
Saking banyaknya pasien operasi hidung. Iran secara tidak resmi dinobatkan sebagai ibu kota operasi hidung dunia. Mengalahkan Brasil dan Amerika Serikat. Di negeri itu, diperkirakan ada 100.000 operasi hidung tiap tahun.
Pada tahun 2006, misalnya, di Teheran tercatat ada 35.000 operasi hidung. Bandingkan, pada tahun yang sama, di seluruh Inggris hanya ada 6.000 operasi hidung. Itu sebabnya profesi dokter bedah plastic dengan spesialisasi hidung dan wajah menduduki peringkat atas penghasilan uang paling banyak. Di Teheran saja, ada 3.000 dokter bedah plastik yang membuka praktik. Setiap hari seorang dokter mengoperasi dua-tiga hidung. Namun, ada pula dokter tanpa kualifikasi memadai yang nekat terjun sebagai dokter bedah hidung.
Bisa ditebak, departemen kehakiman mau tidak mau lebih aktif dalam hal penanganan kasus malpraktik. Antara tahun 2001 dan 2004, ada 2.715 kasus malpraktik yang berbuntut pencabutan lisensi 459 dokter dan penangguhan izin 21 dokter lainnya.
Walau demikian, tetap saja peminat operasi hidung tidak berkurang. Mereka rela mengeluarkan uang antara US$ 3.000 – US$ 5.000 untuk sekali operasi. Bahkan, dinegara tersebut tersedia kredit operasi hidung untuk membantu nasabah mempercantik wajahnya.
Jumlah US$ 3.000 – US$ 5.000 itu kira-kira 30% - 50% dari pendapatan per kapitan Iran yang US$ 10.939 menurut data Dana Moneter Internasional 2009 atau US$ 11.575 menurut data Bank Dunia 2009.
Selain mempercantik wajah, hidung yang bagus juga aksesori tepat untuk hijab alias busana tertutup plus kerudung di kepala. Bagi mereka, bagian wajah yang paling terlihat adalah hidung. Bukan mata, karena umumnya mereka bermata besar dan indah. Di negeri tersebut operasi plastik lain seperti tummy tuck untuk merampingkan perut, tidak popular.
Banyak orangtua yang member hadiah kelulusan berupa operasi hidung bagi anaknya yang berhasil menyelesaikan sekolah, ujian masuk perguruan tinggi, atau kuliah.
Niloovar, rekan kami yang jelita di Teheran, juga tetap ingin memperbaiki hidungnya. Padahal, bagi kami, dilihat dari segala sisi dia cantik. “Hidung saya terlalu tinggi. Kelak saya ingin operasi. Kalau sekarang, saya masih takut,” katanya.
Di Iran, operasi hidung bukan hal terlarang. Alasannya, menjadi cantik tidak dilarang dalam Islam.

Tergila-gila kosmetik
Selain operasi hidung, perempuan Iran boleh dibilang tergila-gila dengan make up. Jarang sekali bertemu perempuan Iran yang berwajah polos tanpa riasan. Hanya para nenek yang umumnya membiarkan wajah mereka tanpa polesan kosmetik.
Padahal, di Iran, berkosmetik menor merupakan hal terlarang. Perempuan yang memakai riasan tebal bisa didenda, bahkan ditangkap polisi yang berpatroli di jalan. Untuk menyiasatinya, mereka memakai warna muda, natural, atau cenderung warna-warna pucat yang dioleskan lumayan tebal.
Waktu kami memasuki butik, mudah sekali menemukan perempuan yang sibuk melapis mascara atau lipstick di depan cermin. Padahal, olesan mascara di bulu matanya masih sangat tebal dan lipstiknya belum pudar.
Ketika Revolusi Islam tahun 1979, make up merupakan terlarang. Setelah Perang Iran-Irak pada era 1980-1988 usai, larangan berkosmetik dicabut. Tentu saja kaum perempuan di sana begitu gembira. Alhasil, Iran kini menjadi pasar nomor dua terbesar untuk kosmetik di kawasan Timur Tengah, bahkan nomor tujuh terbesar di dunia.
Berdasarkan survey lembaga riset ekonomi swasta di Iran, TMBA, penduduk Iran membelanjakan 2,1 miliar dollar AS per tahun hanya untuk kosmetik. Jumlah itu sama dengan 29 persen untuk pangsa pasar Timur Tengah, nomor dua setelah Arab Saudi. Hampir seluruh kosmetik di Iran hasil impor dengan dominasi merek-merek internasional terkemuka.
Ambisi penduduk Iran atas operasi hidung mungkin terkait dengan kewajiban menutup seluruh tubuh, terutama bagi kaum perempuan. Mereka tidak boleh memperlihatkan rambut dan lekuk tubuh. Mereka hanya dapat mempertontonkan wajah. Wajah kiranya mereka menganggap kurang indah jika hidung yang terlihat orang lain berbentuk besar dan bengkok.
TMBA menyurvei 14 juta penduduk Iran berusia antara 15 dan 45 tahun yang umumnya tinggal di kota besar, seperti Teheran, Isfahan, dan Shiraz. Mereka menghabiskan rata-rata US$7 per bulan.
Tentu saja disana pun produk China yang lebih murah menyerbu. Untuk urusan kosmetik saja sekitar 30% produk impor illegal asal China membanjiri pasar, terutama di daerah pinggiran.
“Sekalipun sudah cantik, perempuan di mana pun ingin terlihat cantik, termasuk di Iran,” kata Elena Tajik, karyawan di salah satu biro perjalanan wisata di Teheran.
Menjadi cantik adalah hal yang tinggi dalam budaya Persia alias Iran zaman dulu. Sampai-sampai ada pepatah “bunuhlah aku, tetapi jadikanlah aku cantik”.
Wah..., rela mati demi terlihat cantik!

Disadur dari Kompas, 5 November 2010
Berminat untuk memiliki kliping digitalnya? email : rio_pede@yahoo.com 

Libatkan Warga Kota Atasi Macet dan Banjir


Tiga tahun sudah Fauzi Bowo memerintah Ibu Kota, namun hasilnya lebih banyak krtitik ketimbang pujiaan. Kinerja sang ahli dinilai masih jauh dari harapan. Masalah klasik yang menjadi momok adalag banjir dan kemacetan.
Perubahan cuaca memperparah kondisi Jakarta. Genangan menjadi masalah baru yang memicu kemacetan parah. “Dahulu banjir dan kemacetan merupakan dua masalah berbeda. Saat ini genangan air telah menyatukannya. Setiap kali hujan, tidak berapa lama muncul genangan. Dan kemacetan akan terjadi,” papar anggota DPD RI Djan Faridz, kemarin.
Perlu paradigma baru untuk mengatasi. Pemerintah Provinsi DKI bisa menjadikan modal social sebagai alternative solusi untuk membantu mengurangi beban Jakarta. Menurut Djan Faridz, modal social dikelola dalam bentuk partisipasi. Warga kota diajak dan dilibatkan mengatasi banjir, genangan, dan kecematan. Salah satu penyebab banjir dan genangan adalah sampah. Sampah bersumber dari aktivitas warga kota. Pemerintah kota harus berkampanye mengajak warga taat membuang sampah pada tempatnya.
Kampanye juga bisa melibatkan para endorser, terutama tokoh-tokoh lingkungan yang berhasil memanfaatkan sampah dari limbah menjadi barang-barang berguna. Para pelajar dan generasi muda diberi penyuluhan di sekolah dan kampus tentang dampak sampah terhadap kota. Penegakan aturan dan sanksi harus dilakukan.
Sekarang ini Jakarta selalu dipersalahkan bahkan dimaki-maki. Orang lupa bahwa Jakarta selama ini telah menjadi solusi politik, ekonomi, dan social bagi warga kota bahkan bangsa. Jakarta adalah pusat pemerintahan, pusat ekonomi, dan sosisal budaya.
“Eksploitasi yang berlebihan menyebabkan Jakarta seperti ini. Kita semua terlibat dalam eksploitasi tersebut. Karenanya jangan hanya melihat Jakarta sebagai masalah. Lihatlah juga Jakarta sebagai solusi. Jika ingin mengurangi masalah, jadikanlah Jakarta sebagai solusi bersama,” tegasnya.

Atur jam pulang
Menurut Gubernur DKI Fauzi Bowo, banjir dan macet bukan hanya masalah Jakarta. Tapi juga terjadi di kota-kota besar lain seperti Bangkok, Viantiane, Helsinski, dan Berlin. Perbedaan terletak pada sarana dan prasarana yang dimiliki setiap Negara.  “Saya yakin kalau infrastruktur dan sistem lengkap terbangun, terawat, dan berfungsi dengan baik, kita bisa mengatasi persoalan banjir,” ujar Fauzi Bowo saat menutup acara 1st ASEM Meeting for Governors and Mayors di Jakarta, Jumat (29/10) malam.
Untuk meminimalisasi kemacetan saat jalan tergenang, Kepala Dinas Perhubungan DKI Udar Pristono meminta pimpinan kantor pemerintah dan swasta mengatur jam pulang karyawan. “Sudah ada kantor swasta yang memulangkan karyawan setelah pukul 22.00 WIB,” cetusnya kemarin.
Pengaturan waktu cukup efektif memecah konsentrasi kendaraan seperti yang diterapkan pada jam masuk sekolah menjadi 06.30 WIB dari pukul 07.00 WIB.
Ia mengusulkan jam masuk kerja di Jakpus pukul 07.30 WIB, Jakbar dan Jaktim pukul 08.00, serta Jaksel dan Jakut pukul 09.00. Dengan jam masuk kerja berbeda, otomatis jam pulang juga berbeda.

Disadur dari Media Indonesia, 1 November 2010
Berminat untuk memiliki kliping digitalnya? email : rio_pede@yahoo.com

Kursi Mayoritas Demokrat Terancam Diambil Alih


Kemenangan Partai Republik bakal mengancam agenda pemerintah Presiden Barack Obama.
Kursi mayoritas kubu Partai Demokrat di Kongres terancam tergusur dalam pemilu sela legislative yang digelar di Amerika Serikat Selasa (2/11) atau hari ini WIB. Hasil pemilu itu diperkirakan bakal mengubah peta politik di seluruh ‘Negeri Paman Sam’.
Para pemilih AS makin sedikit yang mendukung pemerintahan Presiden Barack Obama dari Demokrat yang baru berjalan dua tahun. Publik, yang kecewa terhadap krisis ekonomi yang tidak kunjung beres dan perang Afganistan yang berlarut-larut, mungkin akan memberikan kemenangan kepada Partai Republik di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) maupun Senat.
Pemilu tengah semester ini memperebutkan 100 kursi dari 435 kursi di DPR. Republik membutuhkan 40 kursi tambahan untuk menjadi mayoritas di Kongres. Partai yang kerap disebut Grand Old Party (GOP) ini juga tinggal menambah 10 kursi lagi untuk menguasai Senat yang menyediakan 100 kursi.
Sejumlah jajak pendapat hingga kemarin menunjukkan Republik bakal mampu merebut kursi-kursi tersebut. Republik juga berpeluang besar memenangi pemilihan kursi gubernur yang digelar di 37 negara bagian. “Kini kami berharap adanya awal baru dengan warga Amerika,” ujar ketua Komisi Nasional Republik Michael Steele.
Upaya mobilisasi pemilih besar-besaran dilakukan kedua kubu dalam beberapa pekan ini untuk merebut 14 juta pemilih AS. Obama, misalnya, ikut berkampanye di empat negara bagian untuk menggaet para pemilih muda, liberal, warga kulit hitam dan independen yang telah berjasa mengantarkannya ke Gedung Putih.
Sesuai berkeliling ke empat Negara bagian, ia melakukan serangkaian wawancara radio dengan sejumlah radio. Wawancara itu rencananya tayangkan bersamaan dengan pencoblosan hari ini.
Sementara di kubu Republik, kehadiran gerakan Tea Party yang belum genap berusia dua tahun terbukti mampu mendomgkrak popularitas kekuatan kandidat-kandidat Republik.
Pemilihan kursi Kongres di tengah masa kepemimpinan Obama yang merupakan tes sesungguhnya bagi kekuatan gerakan konservatif yang menyerukan pengurangan pajak dan pemerintahan terbatas. Namun kubu Demokrat berharap kebijakan ultrakonservatif yang diusung gerakan Tea Party pimpinan Sarah Parlin, kandidat wakil presiden Republik dalam pemilihan presiden 2008, bisa memukul balik Republik karena terlalu ekstrem bagi para pemilih AS.
Para pengamat politik menyebut pemilu kali ini hampir bisa dipastikan mengubah peta politik AS. Kemenangan Republik bakal mengancam agenda Obama yang telah dijalankan dalam dua tahun pemerintahannya. Kemenangan besar kubu Republik juga bisa memicu kebuntuan politik di Washington, terutama jika Obama gagal mencapai mufakat dengan para pengkritiknya. Persoalan dalam negeri seperti reformasi layanan kesehatan dan imigrasi bakal terancam. Begitu juga persoalan internasional seperti perubahan iklim, perdagangan dan control senjata.
Disadur dari Media Indonesia, 3 November 2010
Berminat untuk memiliki kliping digitalnya? email : rio_pede@yahoo.com

SentraClix

Cari di Blog ini...