Tahukah kamu?
Pada bulan Juli 117 tahun yang lalu, di masa pendudukan Belanda, Surabaya menjadi kota pertama yang memasukkan mobil ke Indonesia, yang pada saat itu masih bernama Hindia Belanda (ederlands Indie).
Pada tahun 1984, Sunan Solo Paku Buwono X memesan mobil melalui perusahaan Prottle & Co yang berlokasi di Passer Besar (kini Pasar Besar), Surabaya.
Mobil yang dipesan adalah Benz Viktoria. Mobil yang masuk pada tahun 1894 itu juga menjadi mobil pertama yang masuk ke Indonesia dan langsung menjadi kendaraan seorang raja. Benz, yang pada tahun 1926 bergabung dengan Daimler yang memproduksi mobil Mercedes, mulai memproduksi mobil-mobil Mecedes Benz yang kini dikenal sebagai salah satu pembuat mobil papan atas terkemuka Jerman.
Banyak orang kaya di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang berminat membeli pada masa itu, membuat Prottle & Co pada awalnya hanya menjual barang-barang impor seperti mebel, tempat tidur, piano, mobil-mobilan untuk anak-anak, dan kereta kuda - akhirnya memutuskan untuk juga menjual mobil. Berbagai merek mobil di datangkan oleh perusahaan yang berlokasi di Surabaya itu. Waktu terus berjalan, dan perusahaan-perusahaan penjual mobil juga bermunculan di Semarang dan tentu saja di Jakarta dan kota-kota besar lainnya.
Source: Kompas, Jumat 15 Juli 2011
kumpulan informasi dari semua media cetak Indonesia dalam bentuk kliping digital
Selasa, 02 Agustus 2011
Senin, 06 Juni 2011
Sweet sugar
Siapa yang tidak mengkonsumsi gula pasir? Anak-anak menyukai rasa manisnya, orang dewasa pun juga. Namun, tak semanis rasanya, gula pasir mempunyai dampak yang kurang baik bagi kesehatan pankreas dan tubuh. Hal ini disebabkan karena gula pasir merupakan karbohidrat sederhana yang sulit dicerna dan diubah menjadi energi.

Untuk mengubah gula pasir menjadi gula darah, tubuh hanya memerlukan waktu 3 menit. Tetapi untuk mengubah gula darah menjadi energi yang dapat disimpan dalam otot, pankreas memerlukan waktu kira-kira 140 menit.
Pankreas yang masih bekerja normal hanya mampu mengubah 1/2 sendok makan gula pasir menjadi energi setiap hari. Berat 1/2 sendok makan gula pasir kira-kira 5 gram.
Jadi, bila kita mengkonsumsi lebih dari 1/2 sendok gula, maka sisanya akan menjadi gula darah dan lemak tubuh. Akibatnya adalah orang menjadi bertambah gemuk, dan lama-kelamaan akan menderita diabetes.
Beberapa efek buruk langsung gula terhadap tubuh:
1. Mempermudah dan meningkatkan reproduksi mikroorganisme (terutama jamur dan bakteri) dalam tubuh.
2. Mempercepat pertumbuhan sel kanker.
3. Gula menekan fungsi sistem imun tubuh.
4. Gula mempercepat penuaan.
Dengan mengurangi asupan gula, maka akan ada banyak manfaat kesehatan yang bisa kita dapat, mencegah atau menunda pengembangan diabetes. Mengurangi jumlah gula yang dikonsumsi juga dapat menstabilkan pikiran, membantu mengatur berat badan, dan meningkatkan kesehatan.
Diambil dari berbagai sumber.
Untuk mengubah gula pasir menjadi gula darah, tubuh hanya memerlukan waktu 3 menit. Tetapi untuk mengubah gula darah menjadi energi yang dapat disimpan dalam otot, pankreas memerlukan waktu kira-kira 140 menit.
Pankreas yang masih bekerja normal hanya mampu mengubah 1/2 sendok makan gula pasir menjadi energi setiap hari. Berat 1/2 sendok makan gula pasir kira-kira 5 gram.
Jadi, bila kita mengkonsumsi lebih dari 1/2 sendok gula, maka sisanya akan menjadi gula darah dan lemak tubuh. Akibatnya adalah orang menjadi bertambah gemuk, dan lama-kelamaan akan menderita diabetes.
Beberapa efek buruk langsung gula terhadap tubuh:
1. Mempermudah dan meningkatkan reproduksi mikroorganisme (terutama jamur dan bakteri) dalam tubuh.
2. Mempercepat pertumbuhan sel kanker.
3. Gula menekan fungsi sistem imun tubuh.
4. Gula mempercepat penuaan.
Dengan mengurangi asupan gula, maka akan ada banyak manfaat kesehatan yang bisa kita dapat, mencegah atau menunda pengembangan diabetes. Mengurangi jumlah gula yang dikonsumsi juga dapat menstabilkan pikiran, membantu mengatur berat badan, dan meningkatkan kesehatan.
Diambil dari berbagai sumber.
Kamis, 21 April 2011
Jembatan Selat Sunda
| www.arsipberita.com |
Megaproyrek Jembatan Selat sunda akan dibangun dari Pelabuhan Merak-Banten menuju Bakauheni, Lampung dengan panjang 30km. Rencananya, jembatan ini juga akan dilengkapi dengan jalur kereta api dibagian bawah.
Sepanjang 2km, jembatan ini dibangun tanpa penyangga dan tercatat sebagai jembatan terpanjang di dunia tanpa tiang penyangga, sedangkan 28 km sisanya, akan tetap disangga dengan tiang-tiang dengan kedalaman hingga mencapai 700 meter.
Kebutuhan pendanaan untuk pembangunan proyek jembatan Selat Sunda diperkirakan mencapai Rp 250 triliun .
“Target kita, peletakan batu pertama pada 2014. Pembangunan fisik dibutuhkan waktu sekitar 8 tahun, “ kata Direktur Pengembangan Kerjasama Pemerintah dan Swasta Kementrian PPN /Bapennas Bastry Panji.
Menurutnya, pemerintah membutuhkan waktu 2 tahun untuk menyelesaikan studi kelayakan. Sementara untuk pembangunan fisik jembatan, diperkirakan membutuhkan waktu yang sangat lama.
Disadur dari:
Bisnis Indonesia, 15 November 2010
Senin, 11 April 2011
Teknik Lichtenstein Redam Kekambuhan Hernia
Hernia adalah penonjolan isi rongga perut akibat melemahnya otot dinding perut. Dinding perut yang tidak kuat menahan beban membuat usu melorot dan mendesak ke bawah, menimbulkan tonjolan di perut bagian bawah maupun di lipat paha.
Tingginya angka penderita hernia di dunia mendorong para pakar untuk menemukan teknik-teknik penanganan yang lebih efektif. Salah satu hasilnya adalah operasi hernia dengan teknik Lichtenstein. Teknik ini menjadi baku emas (golden standard) penanganan hernia. Apa istimewanya?
Spesialis bedah RS Gading Pluit Jakarta dr Barlin Sutedja SpB menjelaskan keistimewaan teknik Lichtenstein terletak pada bahan proses penambalan lokasi hernia yang berfungsi memperkuat jaringan.
Spesialis bedah RS Gading Pluit Jakarta dr Barlin Sutedja SpB menjelaskan keistimewaan teknik Lichtenstein terletak pada bahan proses penambalan lokasi hernia yang berfungsi memperkuat jaringan.
“Metode Lichtenstein menggunakan penambal berupa jala plastic dari bahan polipropilena,” ujarnya dalam acara live surgery bertajuk Learn from the Expert, di RS GDING Pluit, Jakarta (30/10). Acara yang diselenggarakan Perhimpunan Hernia Indonesia dan Perhimpunan Ahli Bedah Indonesia itu menghadirkan Prof Parviz K Amid dari Lichtenstein Hernia Institute AS, yang merupakan pionir teknik Lichtenstein.
Prosedurnya, tambalan jala polipropilena itu diletakkan di bawah kulit di lokasi hernia. Dalam beberapa hari, tambalan itu akan menyatu dengan jaringan sekitar dan tidak menyebabkan rasa sakit. Bahan polipropilena jarang ditolak oleh tubuh.
Barlin menerangkan, metode Lichtenstein yang telah dipraktikkan di berbagai Negara selama 18 tahun terakhir memiliki sejumlah keuntungan. Antara lain, teknik ini tergolong sebagai operasi tanpa tegangan (tension-free). Artinya penambalan tidak menimbulkan regangan kulit seperti teknik jahitan. Dengan demikian, nyeri pascaoperasi dapat diminimalisasi. Selain itu, prosedurnya yang hanya memerlukan anestesi local membuat biaya operasi lebih terjangkau. Kisarannya, Rp 200 ribu hingga Rp 800 ribu, bergantung pada kondisi hernia.
“Teknik ini juga dinilai lebih aman. Dan yang terpenting, bahan tambalan yang digunakan cukup kuat untuk menahan kambuhnya kembali hernia. Riset menunjukkan, resiko kekambuhan pada teknik ini hanya 0,1-1%,” terang Barlian.
Proses pemulihan pasca operasi, lnjut Barlian, membutuhkan waktu beberapa pekan. Pada 2-3 minggu awal pascaoperasi, pasien tidak diperkenankan mengangkat beban berat. Selanjutnya, pasien bisa beraktivitas biasa.Disadur dari Media Indonesia, 3 November 2010.
Berminat untuk memiliki kliping digitalnya?
atau butuh kliping dengan tema lainnya? email : rio_pede@yahoo.com
Jumat, 08 April 2011
Yang Hijau yang Menyehatkan (1)
Jangan sakit hati jika teman sekantor tidak menyambut baik kehadiran Anda saat menderita sakit, terutama influenza. Dalam gedung yang tertutup dan menggunakan penyejuk udara, virus flu akan berputar dalam ruangan sehingga membuat karyawan lain ikut sakit.
Yanu Aryani dari Konsil Bangunan Hijau Indonesia (KBHI) menuturkan, pekerja menghabiskan sekitar 80% waktunya di dalam gedung.
Mereka rawan terkena sindrom bangunan sakit (sick building syndrome/SBS). Gangguan ini menjadi pembicaraan awal 1970-an ketika harga minyak melejit sehingga pengoperasian gedung menjadi mahal akibat borosnya penggunaan energi untuk pendinginan dan pencahayaan. Guna menekan konsumsi enerrgi, para ahli menemukan teknologi insulasi yang membuat gedung kedap udara sehingga energy untuk pendinginan ruangan berkurang. Sejak itu muncul keluhan pusing, iritasi mata dan hidung, rasa gamang, lelah, serta sesak nafas pada sejumlah pengguna gedung.
Keluhan itu dikenal sebagai SBS. “Ketika keluar dari ruangan gejalanya hilang,” kata Faisal Yatim, dokter yang menulis buku tentang SBS.
Selain SBS yang tidak permanen, ada gangguan kesehatan terkait gedung, yaitu building related illness (BRI), yang bersifat permanen, bahkan bias berujung kematian. Gejala awal bias berupa influenza, berlanjut radang paru (pneumonia), hingga kematian.
Penelitian intensif SBS dilakukan oleh Tony Pickering, dokter dari Wythenshawe Hospital, di dekat kota Manchester, Inggris. Hasil penelitian menunjukkan, hanya sedikit gejala SBS terjadi di gedung yang berventilasi alami di mana banyak mkroorganisme. Sebaliknya, gejala SBS ditemukan pada gedung-gedung dengan jumlah mikroorganisme rendah. Kesimpulannya, SBS tidak berkaitan dengan jumlah mikroorganisme.
Pada gedung ber-AC, polusi dalam ruangan, antara lain asap rokok, emisi material (bangunan dan perkakas kantor), partikel dan mikroba, menjadi penyebab SBS, Penyebab BRI adalah mikroorganisme, terutama bakteri Legionella.
Menurut Yanu, SBS bias menurunkan produktivitas karyawan dan keuntungan perusahaan. Karena itu, pekerja dan manajemen kantor perlu mengetahui penyebab dan merekayasa kondisi gedung untuk mengurangi resiko SBS.
Penyerapan polutan
Tanaman dalam ruangan yang semula dianggap sebagai pemanis dan penyegar ruangan ternyata memiliki peran untuk mengurangi resiko SBS.
Hal itu sejalan dengan hasil penelitian Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) awal 1970-an. Penelitian NASA menemukan jenis-jenis tanaman yang mampu mengurangi konsentrasi polutan di dalam ruangan, terutama tiga polutan utama, yaitu benzene, trikhloroetilen (TCE), dan formaldehid.
Benzena terdapat pada tinta, minyak, karet, zat pewarna, deterjen, obat-obatan, serta bahan-bahan mudah meledak, seperti gas pada korek api. TCE terdapat pada zat untuk dry clean, cat pernis, dan beragam lem. Zat TCE dapat menyebabkan kanker hati. Formaldehid ada pada kayu lapis, tisu, kertas pembersih, cairan penghalus kain, lapis bawah karpet, asap rokok, dan minyak tanah.
Bintang Nugroho dari KBHI mengatakan, sejumlah tanaman itu ada di Indonesia, misalnya lidah mertua (Sansevieria), palem bambu, kuping gajah (Aglaonema), beringin, gerbera yang biasa kita jadikan bunga potong, puring (Janet crane), dan hanjuang (Marginata).
Menurut Bintang, efektivitas dan optimasi hasilnya penyerapan polutan bergantung pada posisi tanaman. “Untuk pengaturan letak perlu konsultasi dengan ahlinya,” katanya.
Pada akhirnya, bangunan sehat sebenarnya merupakan salah satu wajah dari bangunan hijau (green building). Selain mengurangi polutan dalam ruangan, agar menjadi gedung sehat, dibutuhkan pengaturan penggunaan energy secara efektif dan pengaturan sirkulasi udara segar dalam ruangan.
“Saat ini banyak klaim green building sekedar untuk pencitraan perusahaan. Untuk menghindari hal itu perlu pihak ketiga untuk melakukan penilaian,” kata Bintang. Menetapkan sebuah gedung sudah “hijau” atau belum merupakan salah satu tugas KBHI.Disadur dari Kompas, 7 Maret 2011.
Berminat untuk memiliki kliping digitalnya?
atau butuh kliping dengan tema lainnya? email : rio_pede@yahoo.com
Kamis, 03 Maret 2011
Cabai Terpedas di Dunia
Konsumen cabai di Indonesia saat ini benar-benar tengah dilanda kecemasan. Bayangkan, untuk mengkonsumsi sambal atau rendang sementara waktu terpaksa harus mengurangi volume buah pedas ini karena harganya selangit mencapai Rp 100.000/kg. Buah bumbu penyedap ini, harganya merangkak terus karena di daerah sentra pertaniannya sedang kosong. Kekosongan terjadi oleh bencana alam banjir dan kekeringan. Di beberapa sentra cabai juga terkena bencana erupsi, Merapi atau Bromo.
Terlepas dari kenaikan harga yang membumbung, peneliti di New Mexico State University, Amerika Serikat, meneliti cabai terpedas di dunia. Dari penelitian itu mereka menemukan bibit jolokia sebagai cabai terpedas di dunia. Cabai ini mengalahkan 275 species lainnya, yang dikoleksi dari berbagai belahan bumi, khususnya daerah tropis dan subtropis.
Buah chilicile lada ini berdasarkan sejarah awalnya berasal dari Negara bagian Assam, India. Atas rekor rasanya tersebut, tanaman ini menerima penghargaan dari Guinness World Records, sebagai bentuk pengakuan rasa cabai terpanas di dunia melewati juara sebelumnya red savina.
Dalam uji replikasi unit panas dan pedas, Scoville (SHUs), bhut jolokia mencapai satu juta SHUs. Sukarelawan yang mencoba mengumsumsinya bisa pingsan selama tiga hari tiga malam karena panas dan sakit perut. Juara sebelumnya savina merah (red savina), yang rasa pedasnya diukur hanya mencapai angka 577.000 SHUs. Dr Paulus Bosland, Direktur Chili Pepper Institute di New Mexico State University Departemen Ilmu Tanaman dan Lingkungan memperoleh benih bhut jolokia saat berkunjung ke India pada tahun 2001.
Bosland mengungkapkan, sejak tanaman bhut jolokia ditemukan untuk menghindari serangan hama serangga dibiakkan di bawah kandang kelinci selama tiga tahun. Tujuannya untuk menghasilkan benih yang cukup, untuk menyelesaikan tes lapangan yang diperlukan. “Nama bhut jolokia diterjemahkan dari bahasa aslinya, berarti ‘hantu chile’,” kata Bosland.
Ia menambahkan, konsenntrasi panas bhut jolokia cenderung digunakan pada industri makanan sebagai bumbu atau obat penahan rasa sakit, dalam kemasan makanan spesial. Bila dibandingkan dengan cabai keriting, yang sering digunakan untuk bumbu balado masakan Padang, rasanya tidak ada apa-apanya. Bagi orang dengan sindrom iritasi usus besar karena sentuhan rasa pedas/panas sebaiknya jangan coba-coba menyentuh makanan ini karena bisa timbul rasa sakit lebih tinggi daripada rasa pedas biasanya. Penelitian lengkap dan jumlah reseptor rasa skit cabai, menurut hasil penelitian akan diterbitkan, 11 Juni 2011.
Penelitian dikembangkan kepada para konsumen, yang harus mendapatkan terapi khusus. Satu dari lima orang dewasa Inggris, memiliki sindrom iritasi usus (IBS), setelah mengonsumsi cabai kondisi kesehatannya sangat menghawatirkan. Gejala IBS meliputi nyeri perut, kembung dan masalah usus seperti sembelit atau diare. Penelitian sementara baru menunjukkan bahwa orang dengan gejala IBS memiliki berbagai tingkatan yang biasanya menyerang serabut saraf reseptor. Untuk meneliti lebih jauh dampak dari makanan pedas ini, para peneliti berhasil memisahkan senyawa pedas. Rasa pedas itu dapat diurai menjadi dua bagian protein yaitu, TPRV I “antagonis” dan “Capcaisin”.
Disadur dari Pikiran Rakyat, 20 Januari 2011
Terlepas dari kenaikan harga yang membumbung, peneliti di New Mexico State University, Amerika Serikat, meneliti cabai terpedas di dunia. Dari penelitian itu mereka menemukan bibit jolokia sebagai cabai terpedas di dunia. Cabai ini mengalahkan 275 species lainnya, yang dikoleksi dari berbagai belahan bumi, khususnya daerah tropis dan subtropis.
Buah chilicile lada ini berdasarkan sejarah awalnya berasal dari Negara bagian Assam, India. Atas rekor rasanya tersebut, tanaman ini menerima penghargaan dari Guinness World Records, sebagai bentuk pengakuan rasa cabai terpanas di dunia melewati juara sebelumnya red savina.
Dalam uji replikasi unit panas dan pedas, Scoville (SHUs), bhut jolokia mencapai satu juta SHUs. Sukarelawan yang mencoba mengumsumsinya bisa pingsan selama tiga hari tiga malam karena panas dan sakit perut. Juara sebelumnya savina merah (red savina), yang rasa pedasnya diukur hanya mencapai angka 577.000 SHUs. Dr Paulus Bosland, Direktur Chili Pepper Institute di New Mexico State University Departemen Ilmu Tanaman dan Lingkungan memperoleh benih bhut jolokia saat berkunjung ke India pada tahun 2001.
Bosland mengungkapkan, sejak tanaman bhut jolokia ditemukan untuk menghindari serangan hama serangga dibiakkan di bawah kandang kelinci selama tiga tahun. Tujuannya untuk menghasilkan benih yang cukup, untuk menyelesaikan tes lapangan yang diperlukan. “Nama bhut jolokia diterjemahkan dari bahasa aslinya, berarti ‘hantu chile’,” kata Bosland.
Ia menambahkan, konsenntrasi panas bhut jolokia cenderung digunakan pada industri makanan sebagai bumbu atau obat penahan rasa sakit, dalam kemasan makanan spesial. Bila dibandingkan dengan cabai keriting, yang sering digunakan untuk bumbu balado masakan Padang, rasanya tidak ada apa-apanya. Bagi orang dengan sindrom iritasi usus besar karena sentuhan rasa pedas/panas sebaiknya jangan coba-coba menyentuh makanan ini karena bisa timbul rasa sakit lebih tinggi daripada rasa pedas biasanya. Penelitian lengkap dan jumlah reseptor rasa skit cabai, menurut hasil penelitian akan diterbitkan, 11 Juni 2011.
Penelitian dikembangkan kepada para konsumen, yang harus mendapatkan terapi khusus. Satu dari lima orang dewasa Inggris, memiliki sindrom iritasi usus (IBS), setelah mengonsumsi cabai kondisi kesehatannya sangat menghawatirkan. Gejala IBS meliputi nyeri perut, kembung dan masalah usus seperti sembelit atau diare. Penelitian sementara baru menunjukkan bahwa orang dengan gejala IBS memiliki berbagai tingkatan yang biasanya menyerang serabut saraf reseptor. Untuk meneliti lebih jauh dampak dari makanan pedas ini, para peneliti berhasil memisahkan senyawa pedas. Rasa pedas itu dapat diurai menjadi dua bagian protein yaitu, TPRV I “antagonis” dan “Capcaisin”.
Disadur dari Pikiran Rakyat, 20 Januari 2011
Berminat untuk memiliki kliping digitalnya?
atau butuh kliping dengan tema lainnya? email : rio_pede@yahoo.com
Rabu, 02 Maret 2011
IBNU AL-SAFFAR ASTRONOM KORDOBA (1)
Ibnu Al-Saffar berhasil membuat perhitungan akurat dalam menentukan arah kiblat.
Mereka juga mendapatkan tugas untuk mengkaji kembali karya pemikiran astronom Muslim. Termasuk di dalamnya, risalah Ibnu al-Saffar, yang menjadi rujukan penting. Dalam tulisannya, Ibnu al-Saffar mengupas beragam kegunaan perangkat astronomi yang bernama astrolabe.
Keistimewaan lain dari karya Ibnu al-Saffar adalah menggunakan metode triangulasi dalam menentukan koordinat dan jarak suatu tempat. Penemu triangulasi sebenarnya bangsa Romawi. Namun, mereka tak menerapkan temuannya tersebut untuk mengukur jarak. Para sarjana Muslim, termasuk Ibnu al-Saffar, memanfaatkannya dengan baik.
Yaitu, dalam penghitungan jarak ataupun lingkar bumi. Beragam terobosan dan pemikiran Ibnu al-Saffar yang terekam di dalamnya, membuat karya dia masih digunakan di Eropa hingga abad ke-15. Ia dipandang sebagai ilmuwan yang berhasil mengaitkan bidang astronomi dengan disiplin ilmu bumi.
Menurut sejarawan Said al-Andalusi, risalah Ibnu al-Saffar ditulis dengan kalimat yang ringkas, jelas, dan komprehensif. Begitu pentingnya, risalah itu beberapa kali ditulis ulang serta diterjemahkan oleh sarjana-sarjana Eropa. Johannes Hispensis dan Plato dari Tivoli (1134-1145 mengalihbahasakan ke dalam bahasa Latin.
Ia pun mengeditnya dan menerjemahkan karya bahasa Arab ini ke bahasa Katalan pada 1955. Upaya penelaahan kembali ataupun pengembangan metode dan risalah baik yang terjadi di Timur dan Barat, menunjukkan pengaruh luar biasa dari karyatersebut. Hal ini tentu tak lepas dari kemampuan jenius dari penulisnya, Ibnu al-Saffar.
Ibnu al-Saffar tercatat sebagai ahli astronomi, matematika, dan geografi Muslim berasal dari Spanyol. Ia menetap di Kordoba, yang menjadi tempatnya berkhidmat dalam kerja keilmuan. Nama lengkapnya Abu al-Qasim Ahmad ibnu Abd Allah ibnu Umar al Ghafiqi al-Saffar al-Andalusi.
Jejak keilmuannya dapat ditelusuri pada 1007 Masehi, tepatnya di sekolah sains bernama Maslama dari Madrid. Pendirinya adalah seorang ilmuwan astronomi terkemuka, yakni Maslamah ibnu Ahmad al-Majriti. Saat itu, Kordoba telah menjadi salah satu pusat pengembangan ilmu pengetahuan di Spanyol.
Dengan mengasah ketajaman intelektualnya di Maslama, Ibnu al-Saffar kemudian mewujud sebagai figur penting di ranah keilmuan. Selain menulis, ia mengjar di sejumlah lembaga pendidikan Kordoba. Ia menularkan ilmu kepada anak didiknya di bidang aritmatika, geometri, dan astronomi.
Ibnu al-Saffar banyak menelurkan karya dan hasil riset. Tak jarang, dia berkolaborasi dengan gurunya, al-Majriti. Di antara kerja sama itu, yakni pengembangan lebih lanjut metode penghitungan matematika untuk pengamatan bintang dan table astronomi yang sebelumnya dirintis al-Khawarizmi.
Mereka pun mengumpulkan kembali lembaran-lembaran tercecer dari kitab Zij al Sindhind milik ilmuwan besar ini, serta memberikan komentar. Zij disebut-sebut sebagai mahakarya al-Khawarizmi, yang berbasis pada table astronomi temuan peradaban India kuno yang tertera pada buku Disshanta, buah pemikiran Arya Bhata dan Brahmagupta.
Upaya Ibnu al-Saffar serta al-Majriti terbukti begitu dihargai untuk mempertahankan Sindhind al-Khawarizmi, mengingat teks aslinya banyak yang hilang. Tabel astronomi itu lanrtas menggantikan semua table Yunani serta India yang sebelumnya digunakan. Melalui langkahnya itu Ibnu al-Saffar berkontribusi besar bagi umat Islam di dunia.
Dia berhasil membuat perhitungan akurat dalam penentuan arah kiblat. Seperti diketahui, pelaksanaan shalat dan ibadah umat Islam sangat berkaitan dengan ketepatan arah kiblat ke Makkah. Kontribusi luar biasanya itu masih relevan sampai abad modern sekarang ini.
Misalnya, kibla shalat umat Muslim di Kordoba berkoordinat 30 derajat ke selatan berdasarkan azimuth dari sudut terbitnya matahari. Tak hanya itu, Ibnu al-Saffar pun berperan mendesain instrument jam matahari. Kini, jam matahari rancangannya tetap dipertahankan di Museo Arqueologico Provincial of Cordoba, Spanyol.
Pada masanya, perangkar jam matahari digunakan sebagai penanda tibanya waktu salat Zuhur atau Ashar. Thomas F Glick dan Steven John Livesey dalam buku Medievel Science, Technology, and Medicine, meyakini Ibnu al-Saffar bekerja sama dengan beberapa ilmuwan lainnya dalam mengerjakan konstruksi jam matahari itu.
Prestasi pakar astronomi Muslim menarik minat. Tak hanya kalangan cendekiawan, tapi juga penguasa di Barat. Salah satu penguasa yang tertarik pada karya dan kontribusi astronom Muslim adalah Raja Alfonso X dari Spanyol. Sang raja bahkan memiliki sederet pakar yang bertugas menelaah ilmu astronomi.
Mereka juga mendapatkan tugas untuk mengkaji kembali karya pemikiran astronom Muslim. Termasuk di dalamnya, risalah Ibnu al-Saffar, yang menjadi rujukan penting. Dalam tulisannya, Ibnu al-Saffar mengupas beragam kegunaan perangkat astronomi yang bernama astrolabe.
Astrolabe adalah peralatan astronomi yang digunakan untuk tujuan-tujuan teoritis dan praktis, diantaranya alat peraga dan penentu waktu serta lokasi yang tepat. Ibnu al-Saffar memperkenalkan survey geografis dengan menggunakan astrolabe. Langkahnya ini dianggap sebagai terobosan besar.
Keistimewaan lain dari karya Ibnu al-Saffar adalah menggunakan metode triangulasi dalam menentukan koordinat dan jarak suatu tempat. Penemu triangulasi sebenarnya bangsa Romawi. Namun, mereka tak menerapkan temuannya tersebut untuk mengukur jarak. Para sarjana Muslim, termasuk Ibnu al-Saffar, memanfaatkannya dengan baik.
Yaitu, dalam penghitungan jarak ataupun lingkar bumi. Beragam terobosan dan pemikiran Ibnu al-Saffar yang terekam di dalamnya, membuat karya dia masih digunakan di Eropa hingga abad ke-15. Ia dipandang sebagai ilmuwan yang berhasil mengaitkan bidang astronomi dengan disiplin ilmu bumi.
Menurut sejarawan Said al-Andalusi, risalah Ibnu al-Saffar ditulis dengan kalimat yang ringkas, jelas, dan komprehensif. Begitu pentingnya, risalah itu beberapa kali ditulis ulang serta diterjemahkan oleh sarjana-sarjana Eropa. Johannes Hispensis dan Plato dari Tivoli (1134-1145 mengalihbahasakan ke dalam bahasa Latin.
Plato memberikan kesaksian dalam bab pengantarnya bahwa karya Ibnu al-Saffar merupakan risalah berbahasa Arab terbaik yang pernah ia baca. Versi bahasa Ibraninya dibuat oleh Profeit Tibbon yang dikenal pula dengan nama Jacob ben Makhir. Selanjutnya, ilmuwan J Millas Valicrossa menulis ulang karya ini.
Ia pun mengeditnya dan menerjemahkan karya bahasa Arab ini ke bahasa Katalan pada 1955. Upaya penelaahan kembali ataupun pengembangan metode dan risalah baik yang terjadi di Timur dan Barat, menunjukkan pengaruh luar biasa dari karyatersebut. Hal ini tentu tak lepas dari kemampuan jenius dari penulisnya, Ibnu al-Saffar.
Ibnu al-Saffar tercatat sebagai ahli astronomi, matematika, dan geografi Muslim berasal dari Spanyol. Ia menetap di Kordoba, yang menjadi tempatnya berkhidmat dalam kerja keilmuan. Nama lengkapnya Abu al-Qasim Ahmad ibnu Abd Allah ibnu Umar al Ghafiqi al-Saffar al-Andalusi.
Jejak keilmuannya dapat ditelusuri pada 1007 Masehi, tepatnya di sekolah sains bernama Maslama dari Madrid. Pendirinya adalah seorang ilmuwan astronomi terkemuka, yakni Maslamah ibnu Ahmad al-Majriti. Saat itu, Kordoba telah menjadi salah satu pusat pengembangan ilmu pengetahuan di Spanyol.
Dengan mengasah ketajaman intelektualnya di Maslama, Ibnu al-Saffar kemudian mewujud sebagai figur penting di ranah keilmuan. Selain menulis, ia mengjar di sejumlah lembaga pendidikan Kordoba. Ia menularkan ilmu kepada anak didiknya di bidang aritmatika, geometri, dan astronomi.
Situasi politik yang tidak kondusif disusul perang saudara di Andalusia, yang menandai berakhirnya era pemerintahan Dinasti Umayyah, memaksanya pindah ke Denia. Ini adalah kota kecil terletak di semenanjung Iberia, Spanyol. Dia menghabiskan masa hidupnya di sana, tetap berkarya, hingga meninggal dunia pada 1035 Masehi.
Ibnu al-Saffar banyak menelurkan karya dan hasil riset. Tak jarang, dia berkolaborasi dengan gurunya, al-Majriti. Di antara kerja sama itu, yakni pengembangan lebih lanjut metode penghitungan matematika untuk pengamatan bintang dan table astronomi yang sebelumnya dirintis al-Khawarizmi.
Mereka pun mengumpulkan kembali lembaran-lembaran tercecer dari kitab Zij al Sindhind milik ilmuwan besar ini, serta memberikan komentar. Zij disebut-sebut sebagai mahakarya al-Khawarizmi, yang berbasis pada table astronomi temuan peradaban India kuno yang tertera pada buku Disshanta, buah pemikiran Arya Bhata dan Brahmagupta.
Upaya Ibnu al-Saffar serta al-Majriti terbukti begitu dihargai untuk mempertahankan Sindhind al-Khawarizmi, mengingat teks aslinya banyak yang hilang. Tabel astronomi itu lanrtas menggantikan semua table Yunani serta India yang sebelumnya digunakan. Melalui langkahnya itu Ibnu al-Saffar berkontribusi besar bagi umat Islam di dunia.
Dia berhasil membuat perhitungan akurat dalam penentuan arah kiblat. Seperti diketahui, pelaksanaan shalat dan ibadah umat Islam sangat berkaitan dengan ketepatan arah kiblat ke Makkah. Kontribusi luar biasanya itu masih relevan sampai abad modern sekarang ini.
Misalnya, kibla shalat umat Muslim di Kordoba berkoordinat 30 derajat ke selatan berdasarkan azimuth dari sudut terbitnya matahari. Tak hanya itu, Ibnu al-Saffar pun berperan mendesain instrument jam matahari. Kini, jam matahari rancangannya tetap dipertahankan di Museo Arqueologico Provincial of Cordoba, Spanyol.
Pada masanya, perangkar jam matahari digunakan sebagai penanda tibanya waktu salat Zuhur atau Ashar. Thomas F Glick dan Steven John Livesey dalam buku Medievel Science, Technology, and Medicine, meyakini Ibnu al-Saffar bekerja sama dengan beberapa ilmuwan lainnya dalam mengerjakan konstruksi jam matahari itu.
Disadur dari Republika, Jumat, 30 Juli 2010
Berminat untuk memiliki kliping digitalnya?
atau butuh kliping dengan tema lainnya? email : rio_pede@yahoo.com
Senin, 28 Februari 2011
Pungli di Pelabuhan Tanjung Priok Rp 1,4 M per Hari
Sebanyak 14 ribu truk dan kontainer yang beroperasi di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, harus menyetor uang siluman kepada aparat Rp 100 ribu per hari.
Pengusaha truk dan kontainer angkutan barang ekspor-impor mengeluh pungutan liar (pungli) sepanjang jalan dan keluar-masuk Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Uang pungli yang mengalir dari 14 ribu unit truk dan kontainer yang beroperasi di sana sekitar Rp 1,4 miliar per hari.
“Pungli di pelabuhan itu bisa mencapai Rp 1,4 miliar per hari. Itu dari 14 ribu unit truk dan kontainer yang beroperasi di Pelabuhan tanjung Priok,” kata ketua Angkutan Khusus Pelabuhan Organisasi Angkutan Darat (Organda) DKI Jakarta Gumilang Tarigan di Jakarta, kemarin.
Truk harus menyetor uang siluman Rp 50 ribu untuk tiap perjalanan. Dalam sehari, tiap truk melakukan dua kali perjalanan, sehingga per hari setiap truk mengeluarkan Rp 100 ribu.
Pemungutan liar itu, menurut Gumilang, antara lain polisi dan preman di sepanjang jalan. Ada juga orang-orang yang sehari-hari berkeliaran di pelabuhan.
Gumilang mengatakan pengusaha dan awak angkutan bisa saja melakukan mogok kerja kalau tidak ada penertiban pungli itu, “Kalau kami mogok kerja, tidak ada satu pun kapal pengangkut kontainer barang ekspor dan impor berangkat dari Pelabuhan Tanjung Priok,” ancamnya.
Pemerintah dan pihak instansi terkait, ujar Gumilang jangan melecehkan keberadaan pengusaha truk dan konainer di pelabuhan.
Truk dan kontainer itu, kata Gumilang, angkutan ekspor dan impor yang merupakan urat adi penggerak roda perekonomian.
“Kalau sampai mogok operasi, akan berdampak pada kenaikan harga barang kebutuhan masyarakat dan industry,” tegasnya.
Dibantah
Humas PT Pelindo II Cabang Tanjung Priok Hambar Wiyadi membantah adanya praktik pungli terhadap pengusaha atau awak truk kontainer di pelabuhan.
“Pungli tidak mungkin terjadi karena kami sudah meniadakan transaksi apapun digerbang (pelabuhan),” ujarnya saat dihubungi, kemarin.
Transaksi pembayaran bagi kendaraan yang keluar masuk pelabuhan seperti truk dan kontainer telah menggunakan sistem prabayar yakni sistem ratio frequency identification (RFId). Itu menggunakan sistem pembayaran dengan kartu prabayar yang sebelumnya telah diisi dengan sejumlah uang di Bank Bukopin. “Kami sebetulnya telah membentuk satuan tugas untuk memberantas pungli, berarti ini salah satgas,” tandad Hambar.
Pernyataan Hambar itu bertentangan dengan fakta di lapangan. Di pintu masuk Jakarta International Container Terminal (JICT) Tanjung Priok, kemarin, para supir kontainer menyerahkan uang kepada petugas Rp 5.000 hingga Rp 10.000.
Orang yang menerima uang itu tidak memakai seragam, berada dibawah plang bertuliskan ‘Dilarang Masuk untuk Truk tanpa Dokumen Kartu Ekspor/SP2.
Terdapat pula orang yang berada di pinggiran pintu masuk yang tidak jauh dari gerbang. “Katanya itu untuk uang jalan,” kata Joni, salah satu sopir kontainer, kemarin.
Masih di sekitar lokasi pelabuhan itu, terlihat satu unit mobil polisi sedang parker. Polisi itu menyaksikan praktik pungli tersebut.Disadur dari Media Indonesia, 1 November 2010
Berminat untuk memiliki kliping digitalnya?
atau butuh kliping dengan tema lainnya? email : rio_pede@yahoo.com
Selasa, 22 Februari 2011
Wirausaha Tidak Bisa Dilatih
Pendidikan dan Latihan untuk Mengurangi Resiko Gagal
Untuk menjalankan usaha sendiri, seseorang harus mempunyai karisma di dalam dirinya. Karisma ini hanya dimiliki orang-orang yang memiliki visi dan impian dan semangat yang luar biasa untuk mewujudkan impiannya itu.
Oleh karena itu, materi-materi ajar kewirausahaan di sekolah, terutama di sekolah menengah kejuruan dan politeknik, tak serta merta akan menghasilkan wirausaha karena mereka tidak bias dilatih atau dididik.
Hal itu dikemukakan ekonom dan pengusaha dari Amerika Serikat, Carl J Schramm di Jakarta Senin (15/6). “Kita tidak bias melatih seseorang untuk memiliki karisma. Ada orang-orang tertentu yang memiliki kepribadian senang mengambil resiko dan inovatif dan gigih mewujudkan impiannya,” kata Schramm yang juga Presiden dan CEO Kauffman Foundation itu.
Yang bisa dilakukan, lanjut Schramm, adalah melatih atau mendidik seseorang yang memiliki bekal ide dan semangat atau bahkan sudah memulai usahanya sedikit demi sedikit untuk membuat rencana atau strategi usaha. Tujuannya, untuk menguragi resiko kegagalan usahanya dan memastikan keberhasilan usaha. Jika memiliki rencana atau strategi usaha yang jelas, dipastikan usahanya pun akan berhasil.
Untuk menjalankan usaha sendiri, seseorang harus mempunyai karisma di dalam dirinya. Karisma ini hanya dimiliki orang-orang yang memiliki visi dan impian dan semangat yang luar biasa untuk mewujudkan impiannya itu.
Oleh karena itu, materi-materi ajar kewirausahaan di sekolah, terutama di sekolah menengah kejuruan dan politeknik, tak serta merta akan menghasilkan wirausaha karena mereka tidak bias dilatih atau dididik.
Hal itu dikemukakan ekonom dan pengusaha dari Amerika Serikat, Carl J Schramm di Jakarta Senin (15/6). “Kita tidak bias melatih seseorang untuk memiliki karisma. Ada orang-orang tertentu yang memiliki kepribadian senang mengambil resiko dan inovatif dan gigih mewujudkan impiannya,” kata Schramm yang juga Presiden dan CEO Kauffman Foundation itu.
Yang bisa dilakukan, lanjut Schramm, adalah melatih atau mendidik seseorang yang memiliki bekal ide dan semangat atau bahkan sudah memulai usahanya sedikit demi sedikit untuk membuat rencana atau strategi usaha. Tujuannya, untuk menguragi resiko kegagalan usahanya dan memastikan keberhasilan usaha. Jika memiliki rencana atau strategi usaha yang jelas, dipastikan usahanya pun akan berhasil.
Sekolah-sekolah kejuruan akan sangat berguna dalam hal itu. Tidak hanya itu. Para wirausaha yang sukses juga bisa berbagi ilmu dengan siswa di sekolah-sekolah kejuruan.
“Jadi, belum tentu semua orang bias menjadi entrepreneur karena masih lebih banyak orang yang boro-boro memikirkan inovasi usaha, memikirkan mau makan apa hari ini saja sudah susah,” kata Schramm.
Menjadi seorang wirausaha yang sukses pun, kata Schramm, tidak perlu harus memulai usaha sejak usia muda. Selama ini banyak beredar anggapan keliru bahwa jika ingin sukses, seseorang harus memulai usaha sejak usia 19 atau 21 tahun. Jika tidak, tidak akan pernah berhasil menjadi wirausaha. “Nyatanya, banyak orang yang memulai usaha justru ketika sudah pensiun,” ujarnya.
Schramm juga mengatakan, kewirausahaan harus dilakukan, bukan sekedar diajarkan. Pendidikan kewirausahaan memang perlu diperkenalkan di sekolah-sekolah untuk menginformasikan kepada siswa bahwa kewirausahaan itu penting dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi.
Schramm menambahkan, kewirausahaan juga untuk membentuk adanya keinginan di dalam diri seseorang untuk bekerja sendiri, bukan bekerja kepada orang lain. Sebab, Negara memang butuh meningkatkan jumlah perusahaan-perusahaan baru guna mendorong meningkatnya pertumbuhan ekonomi.
Sementara itu, Staf Ahli Kementrian Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Prof Dr Payaman J Simajuntak saat berbicara dalam seminar “Entrepreneurship Solusi bagi Pengangguran dan Kemiskinan” di Universitas Katolik Widya Mandira, Kupang, Senin, menegaskan di era globalisasi ini perusahaan-perusahaan besar terbukti selalu mengalami kesulitan menghadapi persaingan yang kian tajam. Sebaliknya, kelompok usaha kecil justru mampu menghadapinya karena lebih lincah, fleksibel, serta cepat mengambil keputusan.
“Jadi, belum tentu semua orang bias menjadi entrepreneur karena masih lebih banyak orang yang boro-boro memikirkan inovasi usaha, memikirkan mau makan apa hari ini saja sudah susah,” kata Schramm.
Menjadi seorang wirausaha yang sukses pun, kata Schramm, tidak perlu harus memulai usaha sejak usia muda. Selama ini banyak beredar anggapan keliru bahwa jika ingin sukses, seseorang harus memulai usaha sejak usia 19 atau 21 tahun. Jika tidak, tidak akan pernah berhasil menjadi wirausaha. “Nyatanya, banyak orang yang memulai usaha justru ketika sudah pensiun,” ujarnya.
Schramm juga mengatakan, kewirausahaan harus dilakukan, bukan sekedar diajarkan. Pendidikan kewirausahaan memang perlu diperkenalkan di sekolah-sekolah untuk menginformasikan kepada siswa bahwa kewirausahaan itu penting dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi.
Schramm menambahkan, kewirausahaan juga untuk membentuk adanya keinginan di dalam diri seseorang untuk bekerja sendiri, bukan bekerja kepada orang lain. Sebab, Negara memang butuh meningkatkan jumlah perusahaan-perusahaan baru guna mendorong meningkatnya pertumbuhan ekonomi.
Sementara itu, Staf Ahli Kementrian Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Prof Dr Payaman J Simajuntak saat berbicara dalam seminar “Entrepreneurship Solusi bagi Pengangguran dan Kemiskinan” di Universitas Katolik Widya Mandira, Kupang, Senin, menegaskan di era globalisasi ini perusahaan-perusahaan besar terbukti selalu mengalami kesulitan menghadapi persaingan yang kian tajam. Sebaliknya, kelompok usaha kecil justru mampu menghadapinya karena lebih lincah, fleksibel, serta cepat mengambil keputusan.
“Tantangan bagi Indonesia adalah mempersiapkan tenaga berkemampuan bekerja mandiri yang merupakan bagian dari kelompok usaha kecil tersebut,” ujar Payaman.
Menurut dia, kewirausahaan adalah sikap dan kemampuan melihat sekaligus memanfaatkan berbagai peluang untuk berusaha. Terkait dengan kehebatan perusahaan kecil dan menengah, Payaman menunjuk contoh ekspor Amerika Serikat dan Jerman yang 50 persen diantaranya merupakan produk perusahaan kecil dengan karyawan kurang dari 20 orang.
Sebaliknya, hanya 7 persen ekspor Amerika Serikat bersumber dari perusahaan besar yang mempekerjakan 500 orang atau lebih.
Menurut dia, kewirausahaan adalah sikap dan kemampuan melihat sekaligus memanfaatkan berbagai peluang untuk berusaha. Terkait dengan kehebatan perusahaan kecil dan menengah, Payaman menunjuk contoh ekspor Amerika Serikat dan Jerman yang 50 persen diantaranya merupakan produk perusahaan kecil dengan karyawan kurang dari 20 orang.
Sebaliknya, hanya 7 persen ekspor Amerika Serikat bersumber dari perusahaan besar yang mempekerjakan 500 orang atau lebih.
Disadur dari Kompas, 18 November 2010
Berminat untuk memiliki kliping digitalnya?
atau butuh kliping dengan tema lainnya? email : rio_pede@yahoo.com
Rabu, 19 Januari 2011
Sayonara, Walkman
Selama 30 tahun lebih, Walkman telah terjual sebanyak 220 juta unit. Apakah ini rekor tersendiri? Untuk pemutar pita kaset, ya. Tapi, untuk pemutar hiburan saku, Walkman jelas kalah populer dibanding iPod.
Pada akhir 2009 dikabarkan bahwa iPod telah terjual 220 juta lebih. Angka yang hampir sama, tapi coba lihat kurun waktunya. Angka itu tercapai hanya dalam waktu kurang dari sembilan tahun. Dan angka ini jelas sudah bertambah karena itu data setahun yang lalu.
Selamat tinggal, Walkman. Sony akhirnya menghentikan produksi pemutar pita kaset paling populer sejagat itu mulai Minggu lalu (sekitar 15 Oktober 2009). Produksi terakhirnya di Jepang adalah pada April lalu.
"Begitu barang terakhir terjual, Walkman jadi sejarah," ujar Hiroko Nakamuru, juru bicara perusahaan elektronik itu, di Tokyo pada Senin lalu.
Keputusan itu sontak menimbulkan reaksi. Di situs microblogging Twitter, Walkman menjadi topik terhangat kelima.
"Ah, saya ingat Walkman saya. Saya tak pernah tanpa musik, selalu di samping saya, dan sekarang tetap sama, hanya dengan iPod," celoteh seorang pengguna Twitter.
"Sony berhenti membuat Walkman, akhir dari sebuah era yang saya ingat," ujar pengguna yang lain.
Walkman adalah produk yang sangat melekat dalam kehidupan keseharian kita. Tubuhnya yang rata-rata seukuran telapak tangan itu memang terbilang gemuk bila dibandingkan dengan kebanyakan pemutar musik digital saat ini.
Tapi tak bisa dipungkiri bahwa Walkman adalah gaya hidup yang mewarnai era 1990-an sampai awal 2000-an. Pada masa kejayaannya, kita banyak melihat pemutar kaset mungil itu tergantung di pinggang atau terselip di saku orang-orang dengan kabel headphone atau earphone yang melilit ke telinga.
Saat itu Sony memang tak sendirian di segmen tersebut. Namun Daisuke Wakabayasi dari Wall Street Journal meyakini bahwa Walkman-lah yang membuat Sony meraih puncak dalam industri.
Walkman diproduksi pertama kali pada Juli 1979. Ia dibangun pada 1978 oleh insinyur di divisi audio, Nobutoshi Kihira, atas permintaan Akio Morita, salah satu bos Sony saat itu.
Morita meminta Kihara menciptakan alat yang bisa memutar opera selama penerbangan. Si bos memang cukup sering melakukan perjalanan melintasi Samudra Atlantik.
Awalnya Morita membenci nama Walkman. Namun para bawahannya mengingatkan bahwa nama itu sudah dipakai dalam promosi dan iklan. Morita pun menyerah, dan Walkman mulai merajalela. Selama tiga dekade, sudah terjual 220 juta unit Walkman di seluruh dunia.
Kini saatnya berhenti, meski tak total amat. sony ternyata sebetulnya tak serta-merta menghentikan produksi Walkman. Perusahaan itu menunjuk sebuah perusahaan di Cina untuk memproduksi Walkman bagi kalangan terbatas, yaitu mereka yang betul-betul tergila-gila kepada produk lawas tersebut. Produk terbatas ini masih akan diedarkan ke Cina, Eropa, dan Amerika.
Ada satu lagi gadget dari Sony yang sebetulnya megap-megap, yaitu pemutar cakram kompak atau lebih dikenal dengan nama Discman Walkman atau Mini Disc Walkman. Tapi Sony tetap mempertahankan produksi gadget itu dalam jumlah kecil, seiring dengan menurunnya popularitasnya.
Anda tahu, era pemutar pita kaset memang sedang menuju titik kritis. Semua terjadi sejak musik atau berkas digital ditemukan dan mulai populer sekitar satu dekade lalu.
Itu adalah momentumnya Apple dengan iPod yang ikonik. Tiga tahun lalu, Apple meningkatkan teknologi iPod dengan menciptakan iPod berlayar sentuh alias iPod Touch. Teknologi iPod Touch ditambah kemampuan telepon lalu melahirkan iPhone.
Sony bukannya tak merengkuh pasar digital ini. Saat Walkman masih hidup, Sony mencoba menciptakan Walkman generasi terbaru yang akan bersaing dengan iPod, yaitu Walkman NWZ-E350.
Pemutar MP3 ini berkapasitas 4 gigabyte (GB) dab 8 GB saja. Harganya masing-masing sekitar Rp 600 ribu dan Rp 700 ribu. Tapi nama besar Walkman rupanya tak cukup ampuh.
Sony, yang melakukan merger dengan Ericsson pada 2001, juga memperluas cakupan Walkman dengan menciptakan telepon selular Sony Ericsson. Untuk pasar ini, langkah Sony cukup jitu. Mereka telah menual 26,5 juta unit ponsel Walkman sejak peluncurannya pada September 2005.
Disadur dari Koran Tempo, 27 Oktober 2010
Pada akhir 2009 dikabarkan bahwa iPod telah terjual 220 juta lebih. Angka yang hampir sama, tapi coba lihat kurun waktunya. Angka itu tercapai hanya dalam waktu kurang dari sembilan tahun. Dan angka ini jelas sudah bertambah karena itu data setahun yang lalu.
Selamat tinggal, Walkman. Sony akhirnya menghentikan produksi pemutar pita kaset paling populer sejagat itu mulai Minggu lalu (sekitar 15 Oktober 2009). Produksi terakhirnya di Jepang adalah pada April lalu.
"Begitu barang terakhir terjual, Walkman jadi sejarah," ujar Hiroko Nakamuru, juru bicara perusahaan elektronik itu, di Tokyo pada Senin lalu.
Keputusan itu sontak menimbulkan reaksi. Di situs microblogging Twitter, Walkman menjadi topik terhangat kelima.
"Ah, saya ingat Walkman saya. Saya tak pernah tanpa musik, selalu di samping saya, dan sekarang tetap sama, hanya dengan iPod," celoteh seorang pengguna Twitter.
"Sony berhenti membuat Walkman, akhir dari sebuah era yang saya ingat," ujar pengguna yang lain.
Walkman adalah produk yang sangat melekat dalam kehidupan keseharian kita. Tubuhnya yang rata-rata seukuran telapak tangan itu memang terbilang gemuk bila dibandingkan dengan kebanyakan pemutar musik digital saat ini.
Tapi tak bisa dipungkiri bahwa Walkman adalah gaya hidup yang mewarnai era 1990-an sampai awal 2000-an. Pada masa kejayaannya, kita banyak melihat pemutar kaset mungil itu tergantung di pinggang atau terselip di saku orang-orang dengan kabel headphone atau earphone yang melilit ke telinga.
Saat itu Sony memang tak sendirian di segmen tersebut. Namun Daisuke Wakabayasi dari Wall Street Journal meyakini bahwa Walkman-lah yang membuat Sony meraih puncak dalam industri.
Walkman diproduksi pertama kali pada Juli 1979. Ia dibangun pada 1978 oleh insinyur di divisi audio, Nobutoshi Kihira, atas permintaan Akio Morita, salah satu bos Sony saat itu.
Morita meminta Kihara menciptakan alat yang bisa memutar opera selama penerbangan. Si bos memang cukup sering melakukan perjalanan melintasi Samudra Atlantik.
Awalnya Morita membenci nama Walkman. Namun para bawahannya mengingatkan bahwa nama itu sudah dipakai dalam promosi dan iklan. Morita pun menyerah, dan Walkman mulai merajalela. Selama tiga dekade, sudah terjual 220 juta unit Walkman di seluruh dunia.
Kini saatnya berhenti, meski tak total amat. sony ternyata sebetulnya tak serta-merta menghentikan produksi Walkman. Perusahaan itu menunjuk sebuah perusahaan di Cina untuk memproduksi Walkman bagi kalangan terbatas, yaitu mereka yang betul-betul tergila-gila kepada produk lawas tersebut. Produk terbatas ini masih akan diedarkan ke Cina, Eropa, dan Amerika.
Ada satu lagi gadget dari Sony yang sebetulnya megap-megap, yaitu pemutar cakram kompak atau lebih dikenal dengan nama Discman Walkman atau Mini Disc Walkman. Tapi Sony tetap mempertahankan produksi gadget itu dalam jumlah kecil, seiring dengan menurunnya popularitasnya.
Anda tahu, era pemutar pita kaset memang sedang menuju titik kritis. Semua terjadi sejak musik atau berkas digital ditemukan dan mulai populer sekitar satu dekade lalu.
Itu adalah momentumnya Apple dengan iPod yang ikonik. Tiga tahun lalu, Apple meningkatkan teknologi iPod dengan menciptakan iPod berlayar sentuh alias iPod Touch. Teknologi iPod Touch ditambah kemampuan telepon lalu melahirkan iPhone.
Sony bukannya tak merengkuh pasar digital ini. Saat Walkman masih hidup, Sony mencoba menciptakan Walkman generasi terbaru yang akan bersaing dengan iPod, yaitu Walkman NWZ-E350.
Pemutar MP3 ini berkapasitas 4 gigabyte (GB) dab 8 GB saja. Harganya masing-masing sekitar Rp 600 ribu dan Rp 700 ribu. Tapi nama besar Walkman rupanya tak cukup ampuh.
Sony, yang melakukan merger dengan Ericsson pada 2001, juga memperluas cakupan Walkman dengan menciptakan telepon selular Sony Ericsson. Untuk pasar ini, langkah Sony cukup jitu. Mereka telah menual 26,5 juta unit ponsel Walkman sejak peluncurannya pada September 2005.
Disadur dari Koran Tempo, 27 Oktober 2010
Berminat untuk memiliki kliping digitalnya?
atau butuh kliping dengan tema lainnya? email : rio_pede@yahoo.com
Senin, 17 Januari 2011
Pemerintah Tidak Serius
“Kereta api tak pernah menjadi perhatian serius pemerintah,” kata Suyono Dikun, Ketua Tim Teknis Revitalisasi Perkeretaapian. Pernyataan Suyono jelas dan tegas. Telah berkali-kali tim revitalisasi menyampaikan rekomendasi untuk pemerintah, tetapi perkeretaapian tak juga kunjung bangkit. Tragedi kecelakaan pun terus berulang sebagai ekses buruknya kebijakan perkeretaapian.
Perkeretaapian Indonesia, memang belum membanggakan. Contoh termuktahir adalah tabrakan maut antara Kereta Eksekutif Argo Bromo Anggrek dan Senja Utama di Perarukan, Jateng, awal Oktober 2010.
Suyono dikun, mantan birokrat di Bapennas, dalam artikelnya Kebijakan Kereta Hendak dibawa ke Mana? Di rubric Opini Harian Kompas, Jumat, 7 September 2001, sebenarnya telah menggugat pemerintah.
Tulisnya ketika itu, Retorika pasca-kecelakaan dengan perang pernyataan dan sanggahan tidak menyelesaikan masalah. Sampai masalah mendasar tersebut terselesaikan, kemungkinan kita akan melihat lagi kecelakaan-kecelakaan fatal transportasi umum di kemudian hari.”
Kini, Sembilan tahun sejak tulisan itu dicetak, kita menyaksikan realitasnya. Kecelakaan tetap terjadi. Itulah buah dari pengabaian terhadap kereta. Tabrakan itu direfleksikan sebagai kekalahan transportasi missal oleh kendaraan pribadi.
Pengabaian terhadap kereta dapat mudah dibaca dari timpangnya anggaran. Tahun 2010, misalnya, Dirjen Perkeretaapian mendapat Rp 4 triliun, sedangkan Ditjen Bina Marga Kementrian PU mendapat Rp 18 triliun. Padahal, masa depan angkutan Jawa dan Sumatera-dua pulau terpadat-terletak pada kereta.
Soal anggaran, bukan sekali dua kali Kementrian Perhubungan “menjual” perkeretaapian agar dilirik Kemenkeu. “Kementerian Perhubungan pada pertemuan antar kementrian, dan terakhir di Rapat Tim Percepatan Konektivitas Nasional, tanpa bosan berkali-kali menjelaskan kereta butuh dukungan,” kata Wakil Menhub Bambang Susantono.
Hal paling sederhana, kata Bambang, tersedia dana pemeliharaan jalan raya, tetapi tiada dana pemeliharaan rel. Akibatnya, tak ada dana biaya pemeliharaan dan operasional infrastruktur dari pemerintah untuk rel. Akibatnya, tak ada dana biaya pemeliharaan dan operasional infrastruktur dari pemerintah untuk rel. Tak heran pula, rel sepanjang 4.780 km (2009) kondisinya tak pernah optimal. Kini kita hanya bisa bermimpi untuk bisa menyamai dioperasikannya 7.985 km rel seperti pada tahun 1900.
Liberalisasi
Ketika dan ainvestasi pemerintah cekak, lantas bagaimana? Disodorkanlah liberalisasi melalui UU Perkeretaapian No 23 Tahun 2007. UU itu-mungkin dalam bahasa rakyat-dinilai untuk menutupi “ketidakadilan” keuangan Negara. Meski Negara berdalih untuk menghapus monopoli, memicu kompetisi, sehingga meningkatkan pelayanan.
Terlepas dari perdebatan dibukanya liberalisasi, faktanya investasi swasta seret. Investasi baru ada di proyek baru , seperti Kalimantan Timur. Di sana Ras Al-Khaimah dan Middle East Coal (MEC) berkongsi membangun kereta batu bara.
Bagaimana dengan jalur yang sudah ada? Adakah investor, swasta atau pemerintah, masuk membawa dana segar? Tampaknya butuh bertahun-tahun lagi sebelum ada investor yang berani menanam modal di jalur yang sudah ada.
Nyatanya tak sederhana melapangkan jalan bagi liberalisasi. Batas tegas regulator dan operator saja masih sulit diidentifikasi. Ketika kereta terbakar di Stasiun Rangkasbitung, Banten, masih pula diperdebatkan kewenangan siapa menjaga kereta itu. Apakah PT KAI atau Ditjen Perkeretaapian yang harusnya mensterilisasi lintas?
Lebih lanjut, apakah mungkin swasta “berani” menjalankan perusahaan kereta baru apabila dengan Kepmen Perhub No 219 tahun 2010 telah dilimpahkan pengoperasian dan perawatan lintasan KA di tangan PT KAI? Bagaimana calon perusahaan kereta lain yakin akan diberlakukan adil oleh PT KAI? Dimana badan usaha prasarana?
Harus diakui, masih panjang perjalanan memuaskan penumpang. Meski akar masalahnya adalah pada posisi PT KAI yang harus memuaskan “dua bos”, yakni Menhub dan Men BUMN.
Menhub kerap meminta pengutamaan pelayanan dan keselamatan ketimbang laba. Namun, apakah Men BUMN berpendapat serupa? Harus ada hitam diatas putih soal laba ini; juga terkait apakah investasi bagi kesinambungan operasi kereta dicatat sebagai prestasi direksi.
Apabila memang pemerintah memihak rakyat, harusnya nanti seluruh laba (belum diaudit) PT KAI yang hingga September 2010 mencapai Rp 447,65 miliar dikembalikan untuk investasi kereta api.
Laba?
Pantaskah ada laba di tengah belum membaiknya pelayanan dan masih adanya kecelakaan?
Dirut PT KAI Ignasius Jonan menegaskan, 85-90 persen laba PT KAI berasal dari angkutan barang alias bukan dari kantong penumpang kereta komersial (eksekutif dan bisnis).
Yang jelas, PT KAI butuh laba aagar mampu membeli lebih banyak lokomotif dan gerbong kereta. Butuh dana segar untuk membeli automatic train stop, ati-collision device, bahkan sepur sayap untuk zona keamanan.
Untuk lebih membuka mata, laba Rp 447,65 miliar itu kalaupun dikembalikan lagi ke PT KAI belum membangkitkan perkeretaapian kita. Mengapa? Kekurangan (backlog) dana prasarana dan sarana hingga 2010 yang harus dipenuhi pemerintah (Pasal 214 UU no 23 tahun 2007) besarnya Rp 17,47 triliun.
Pengamat perkeretaapian dari LIPI, Taufik Hidayat, menegaskan, apabila ingin membantu perkeretaapian hanya bisa menolong PT KAI. “Memangnya ada perusahaan kereta lain di Negara ini,” kata Taufik. Dana investasi pun, kata Taufik , harus besar sebab perkeretaapian telah terlalu lama diabaikan.
Senada dengan Suyono, Taufik juga mengeluhkan ketidakseriusan pemerintah tak pernah memenuhi dana subsidi untuk jasa layanan public (PSO) PT KAI. Padahal, dana itu untuk menjalankan kereta ekonomi sebagai tanggung jawab Negara kepada rakyatnya.
Tahun 2010, misalnya, diajukan dana PSO Rp 670 miliar, tetapi hanya dikucurkan Rp 535 milar. Adapun tahun 2010 diusulkan Rp 735 miliar, tetapi rencananya hanya dikucurkan Rp 594 miliar. Terlihat jelas ketidakseriusan pemerintah bagi perkeretaapian, padahal tahun depan anggaran jalan raya dinaikkan dari Rp 18 triliun menjadi sekitar Rp 22 triliun.
Seorang pengamat transportasi pun berujar, “ Pemerintah harus segera membantu kereta api. Apabila tidak, saya pesimistis kereta api bisa bangkit. Akhirnya, lebih baik mendorong pembangunan tol secara massif meski kita tahu tak pernah menyelesaikan masalah mobilitas dan malah mendorong kemacetan pada masa depan. Mengapa? Yah.., daripada republic ini tak punya satu pun prasarana infrastruktur transportasi...
Disadur dari Kompas, 22 Oktober 2010
Berminat untuk memiliki kliping digitalnya?
atau butuh kliping dengan tema lainnya? email : rio_pede@yahoo.com
Langganan:
Komentar (Atom)
