Sebanyak 1,3 juta pekerja, yang tersebar di 7.000 lokasi proyek siang-malam memeras keringat agar pembangunan dapat selesai tepat waktu. Selama sekitar tujuh tahun persiapan Olimpiade 2008, dikabarkan ada 1 juta warga yang harus dipindahkan demi terwujudnya semua fasilitas mewah Olimpiade 2008 tersebut.
Kisah heroik Pemerintah China menyulap ibu kota mereka agar semakin modern juga dilakoni Indonesia berpuluh-puluh tahun silam. Bahkan, saat penduduk China masih didera ekses program Lompatan Jauh ke Depan (Great Leap Forward) Mao Zedong yang konon menewaskan 45 juta orang, Indonesia yang dipimpin Presiden Soekarno sudah memulai kerja raksasa untuk menjadi tuan rumah Asian Games IV tahun 1962.
Indonesia terpilih sebagai tuan rumah Asian Games IV dalam pertemuan Asian Games Federation tahun 1958, saat Asian Games III digelar di Tokyo, Jepang. Delegasi yang dikirim terdiri dari Ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Sri Paku Alam VIII dan Wakil Ketua KOI Maladi.
Keberhasilan Indonesia mengguli Taiwan dan Pakistan dalam pemungutan suara cukup mengejutkan. Keragu-raguan pun menyeruak di kalangan negara Asia karena Indonesia dinilai belum mampu. "Lonceng kematian Asian Games telah berbunyi di Jakarta," tulis koran Singapura, The Straits Times.
Indonesia tentu saja tidak mau tunduk dengan penilaian miring itu. Sejumlah pertemuan digelar untuk merumuskan langkah-langkah yang perlu dilakukan agar Indonesia dapat sukses sebagai penyelenggara dan sukses sebagai peserta.
Rencana pembangunan fisik besar-besaran segera disusun. Buku Asian Games I - X yang diterbitkan KONI Pusat thun 1987 menyebutkan total pengeluaran untuk pembanguanan megah seperti Stadion Utama Senayan, Jembatan Semanggi, dan Hotel Indonesia mencapai Rp 1.096.000.000. Jumlah yang sangat besar untuk kondisi saat itu. Celakanya, penerimaan panitia pelaksana tercatat hanya Rp 736.000.000 atau defisit Rp 360.000.000.
Ribuan pekerja dikerahkan untuk menyulap wajah Jakarta. Entah berapa banyak warga Senayan/Bendungan Hilir yang dipindahkan ke sejumlah tempat agar di kawasan Senayan bisa didirikan kompleks bolahraga nan megah. Selain Stadion Utama, dikompleks ini juga didirikan Istana Olahraga (Istora), Gedung Basket, Lapangan Hoki, dan area parkir luas di sisi timur, barat, selatan serta utara.
Selum lagi stadion Tenis yang sampai sekarang masih dipakai saat Indonesia menjadi tuan rumah Piala Davis dan tentunya Stadion Renang yang lengkap dengan menara serta papan loncat indah. Kompleks ini juga menyediakan deretan bangunan bertingkat sebagai tempat atlet menginap.
Pembangunan kompleks Senayan berjalan tidak terlalu mulus. Pada Oktober 1961, stadion terbakar. Sepertiga bangunan hancur. Namun situasi ini tidak menyurutkan semangat Indonesia, sehingga stadion dapat selesai tepat waktu.
Diluar Senayan, pemerintah mendirikan Hotel Indonesia yang memenuhi standar Internasional guna menampung tamu penting dari luar negeri. Dibangun pula Jembatan Semanggi, Hotel Transit Kemayoran, dan jalan raya baru Tanjung Proik-cawang (Jakarta Bypass). Harus diakui, sisa-sisa bangunan itu masih menjadi bagian penting dari wajah Jakarta sekarang.
Kompleks olahraga Senayan didirikan dengan bantuan kredit dari Uni Soviet. Jepang membantu pendirian Hotel Indonesia, sedangkan AS mendukung pendanaan jalan raya Jakarta Bypass.
Setelah Asian Games IV pada 24 Agustus - 4 September 1962 selesai digelar, Jakarta tidak sama lagi seperti sebelumnya. Jakarta sudah pantas berbangga karena pernah menjadi tuan rumah hajatan besar Asian Games, sejajar dengan Tokyo tuan rumah Asian Games III.
Disadur dari Kompas, 10 November 2010
Berminat untuk memiliki kliping digitalnya?
atau butuh kliping dengan tema lainnya? email : rio_pede@yahoo.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar