Pages

Toko Buku Online Terlengkap

Sabtu, 20 November 2010

Asian Games dan Indonesia

Ketika China terpilih menjadi tuan rumah Olimpiade 2008, Pmerintah kota Beijing bekerja keras untuk mengubah wajah ibu kota menjadi lebih modern, ramah lingkungan, dan bersih. Pembuatan jalur baru kereta bawah tanah, pembangunan 12 stadion baru termasuk stadion paling spektakuler, Bird Nest; dan semua infrastruktur membuat China merogoh kocek 40 miliar dollar AS (Rp 356 triliun) lebih.
Sebanyak 1,3 juta pekerja, yang tersebar di 7.000 lokasi proyek siang-malam memeras keringat agar pembangunan dapat selesai tepat waktu. Selama sekitar tujuh tahun persiapan Olimpiade 2008, dikabarkan ada 1 juta warga yang harus dipindahkan demi terwujudnya semua fasilitas mewah Olimpiade 2008 tersebut.
Kisah heroik Pemerintah China menyulap ibu kota mereka agar semakin modern juga dilakoni Indonesia berpuluh-puluh tahun silam. Bahkan, saat penduduk China masih didera ekses program Lompatan Jauh ke Depan (Great Leap Forward) Mao Zedong yang konon menewaskan 45 juta orang, Indonesia yang dipimpin Presiden Soekarno sudah memulai kerja raksasa untuk menjadi tuan rumah Asian Games IV tahun 1962.


Indonesia terpilih sebagai tuan rumah Asian Games IV dalam pertemuan Asian Games Federation tahun 1958, saat Asian Games III digelar di Tokyo, Jepang. Delegasi yang dikirim terdiri dari Ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Sri Paku Alam VIII dan Wakil Ketua KOI Maladi.
Keberhasilan Indonesia mengguli Taiwan dan Pakistan dalam pemungutan suara cukup mengejutkan. Keragu-raguan pun menyeruak di kalangan negara Asia karena Indonesia dinilai belum mampu. "Lonceng kematian Asian Games telah berbunyi di Jakarta," tulis koran Singapura, The Straits Times.
Indonesia tentu saja tidak mau tunduk dengan penilaian miring itu. Sejumlah pertemuan digelar untuk merumuskan langkah-langkah yang perlu dilakukan agar Indonesia dapat sukses sebagai penyelenggara dan sukses sebagai peserta.
Rencana pembangunan fisik besar-besaran segera disusun. Buku Asian Games I - X yang diterbitkan KONI Pusat thun 1987 menyebutkan total pengeluaran untuk pembanguanan megah seperti Stadion Utama Senayan, Jembatan Semanggi, dan Hotel Indonesia mencapai Rp 1.096.000.000. Jumlah yang sangat besar untuk kondisi saat itu. Celakanya, penerimaan panitia pelaksana tercatat hanya Rp 736.000.000 atau defisit Rp 360.000.000.
Ribuan pekerja dikerahkan untuk menyulap wajah Jakarta. Entah berapa banyak warga Senayan/Bendungan Hilir yang dipindahkan ke sejumlah tempat agar di kawasan Senayan bisa didirikan kompleks bolahraga nan megah. Selain Stadion Utama, dikompleks ini juga didirikan Istana Olahraga (Istora), Gedung Basket, Lapangan Hoki, dan area parkir luas di sisi timur, barat, selatan serta utara.
Selum lagi stadion Tenis yang sampai sekarang masih dipakai saat Indonesia menjadi tuan rumah Piala Davis dan tentunya Stadion Renang yang lengkap dengan menara serta papan loncat indah. Kompleks ini juga menyediakan deretan bangunan bertingkat sebagai tempat atlet menginap.
Pembangunan kompleks Senayan berjalan tidak terlalu mulus. Pada Oktober 1961, stadion terbakar. Sepertiga bangunan hancur. Namun situasi ini tidak menyurutkan semangat Indonesia, sehingga stadion dapat selesai tepat waktu.
Diluar Senayan, pemerintah mendirikan Hotel Indonesia yang memenuhi standar Internasional guna menampung tamu penting dari luar negeri. Dibangun pula Jembatan Semanggi, Hotel Transit Kemayoran, dan jalan raya baru Tanjung Proik-cawang (Jakarta Bypass). Harus diakui, sisa-sisa bangunan itu masih menjadi bagian penting dari wajah Jakarta sekarang.
Kompleks olahraga Senayan didirikan dengan bantuan kredit dari Uni Soviet. Jepang membantu pendirian Hotel Indonesia, sedangkan AS mendukung pendanaan jalan raya Jakarta Bypass.
Setelah Asian Games IV pada 24 Agustus - 4 September 1962 selesai digelar, Jakarta tidak sama lagi seperti sebelumnya. Jakarta sudah pantas berbangga karena pernah menjadi tuan rumah hajatan besar Asian Games, sejajar dengan Tokyo tuan rumah Asian Games III.



Disadur dari Kompas, 10 November 2010
Berminat untuk memiliki kliping digitalnya?  
atau butuh kliping dengan tema lainnya? email : rio_pede@yahoo.com

Jumat, 19 November 2010

Wisata Intelektual yang Menginspirasi Spirit

Sakichi Toyoda, lelaki kelahiran 14 Februari 1867, di Desa Kosai, Shizuoka, ini datang dari keluarga yang sangat sederhana. Sakichi Toyoda adalah anak dari seorang tukang kayu yang miskin, namun tak pernah berhenti untuk berkarya dan berkreasi.
Kini Sakichi Toyoda dikenal sebagai penemu dan industrialis Jepang yang ikut mendirikan Toyota Industries. Keinginan yang keras untuk terus mengembangkan industri mesin menjadikan lelaki ini dikenal sebagai Bapak Revolusi Industri Jepang. Julukannya adalah Raja Penemu dari Jepang. Toyoda menciptakan berbagai jenis mesin tenun. Penemuannya yang paling terkenal adalah mesin tenun sistem otomatis (Jidoka) yang dapat berhenti sendiri bila terjadi gangguan teknis. Sistem Jidoka ini nantinya dijadikan bagian dari sistem produksi yang disebut sistem produksi Toyota.
Perjalanan panjang mengenai semangat dan inovasi generasi keluarga Toyoda hingga menjadi inisiator terjadinya modernisasi industri di Jepang tergambar secara apik, runut, dan komunikatif di Commemorative Museum of Industry and Technology di Nagoya, Jepang.
Diorama di dalamnya mengenalkan perjalanan  panjang keluarga Toyoda dalam mengembangkan teknologi dari mesin tenun paling sederhana hingga ke industri otomotif dan robot yang paling mutakhir.
Toyoda secara apik mengajarkan kepada siapa pun bahwa sesuatu yang sederhana bukan tidak mungkin menjadi awal lahirnya sesuatu yang luar biasa.

Perjalanan Panjang
Begitu kita masuk ke dalam museum langsung terlihat mesin tenun (circular loom). Mesin itu memberikan petunjuk di sana pendiri Toyota, yaitu Sakichi Toyoda memulai hidupnya dalam pergulatan industri mesin tenun. toyoda secara terus menerus melakukan inovasi untuk membuat perajin tenun menjadi lebih nyaman. Untuk meghasilkan mesin yang lebih baik, Toyoda berupaya keras merancang bangun mesin tenun.
Dalam usia 23 tahun, Toyoda berhasil membangun dan mengembangkan mesin tenun dari kayu. Namun untuk menggerakannya masih menggunakan tangan pengrajin. Mesin ini dikenal sebagai wooden hand loom.
Tahun 1896, Toyoda berhasil mengembangkan mesin tenun ini menjadi power loom. Mesin ini kemudian dikembangkan lagi menjadi circular loom. Pada tahun 1924, Toyoda melakukan inovasi dan berhasil mengembangkan mesin tenun automatic power loom. Tahun 1926, dia mendirikan Toyota Automatic Loom Works Ltd yang  menjadi cikal bakal Toyota Industies Corporation (TIC). Tahun 1929, toyoda menjual paten Automatic Loom ke perusahaan Inggris, Platt Brithers & Co.
Lalu Toyoda tertarik masuk ke pengembangan mesin kendaraan. Tahun 1923 dia mendirikan divisi pabrik mobil dalam perusahaannya, TIC. Dalam waktu setahun (1934), divisi ini berhasil merancang bangun mesin mobil pertamanya secara utuh. Pada tahun 1935, Toyoda meluncurkan prototipe sedan pertama (A-1) dan prototipe truk (G-1). Tahun 1937, divisi automobile dipisahkan dari TIC dan mendirikan perusahaan baru Toyota Motor Co Ltd.
Sakichi Toyoda meletakkan seperangkat prinsip yang selalu menjadi petunjuk kepada generasi penerus bagaimana mereka harus bekerja. Prinsip itulah yang akhirnya oleh dunia dikenal sebagai "Toyota Way" Intinya adalah respect for people and continuous improvement.
Toyota membuktikan bahwa museum bisa menjadi sebuah wisata pengetahuan dan mampu membangkitkan spirit baru bagi para pengunjungnya. "Commemorative Museum" mampu menginspirasi pengunjungnya mengenai arti dari hasil sebuah kerja keras.

Disadur dari Kompas, 10 November 2010
Berminat untuk memiliki kliping digitalnya? email : rio_pede@yahoo.com
SentraClix

Cari di Blog ini...