Pages

Toko Buku Online Terlengkap

Kamis, 21 April 2011

Jembatan Selat Sunda

                                                                   www.arsipberita.com
                                                                                            


Megaproyrek Jembatan Selat sunda akan dibangun dari Pelabuhan Merak-Banten menuju Bakauheni, Lampung dengan panjang 30km. Rencananya, jembatan ini juga akan dilengkapi dengan jalur kereta api dibagian bawah.

Sepanjang 2km, jembatan ini dibangun tanpa penyangga dan tercatat sebagai jembatan terpanjang di dunia tanpa tiang penyangga, sedangkan 28 km sisanya, akan tetap disangga dengan tiang-tiang dengan kedalaman hingga mencapai 700 meter.

Kebutuhan pendanaan untuk pembangunan proyek jembatan Selat Sunda diperkirakan mencapai Rp 250 triliun .

“Target kita, peletakan batu pertama pada 2014. Pembangunan fisik dibutuhkan waktu sekitar 8 tahun, “ kata Direktur Pengembangan Kerjasama Pemerintah dan Swasta Kementrian PPN /Bapennas Bastry Panji. 

Menurutnya, pemerintah membutuhkan waktu 2 tahun untuk menyelesaikan studi kelayakan. Sementara untuk pembangunan fisik jembatan, diperkirakan membutuhkan waktu yang sangat  lama.

Disadur dari:
Bisnis Indonesia, 15 November 2010

Senin, 11 April 2011

Teknik Lichtenstein Redam Kekambuhan Hernia

Hernia adalah penonjolan isi rongga perut akibat melemahnya otot dinding perut. Dinding perut yang tidak kuat menahan beban membuat usu melorot dan mendesak ke bawah, menimbulkan tonjolan di perut bagian bawah maupun di lipat paha.
Tingginya angka penderita hernia di dunia mendorong para pakar untuk menemukan teknik-teknik penanganan yang lebih efektif. Salah satu hasilnya adalah operasi hernia dengan teknik Lichtenstein. Teknik ini menjadi baku emas (golden standard) penanganan hernia. Apa istimewanya?
Spesialis bedah RS Gading Pluit Jakarta dr Barlin Sutedja SpB menjelaskan keistimewaan teknik Lichtenstein terletak pada bahan proses penambalan lokasi hernia yang berfungsi memperkuat jaringan.
“Metode Lichtenstein menggunakan penambal berupa jala plastic dari bahan polipropilena,” ujarnya dalam acara live surgery bertajuk Learn from the Expert, di RS GDING Pluit, Jakarta (30/10). Acara yang diselenggarakan Perhimpunan Hernia Indonesia dan Perhimpunan Ahli Bedah Indonesia itu menghadirkan Prof Parviz K Amid dari Lichtenstein Hernia Institute AS, yang merupakan pionir teknik Lichtenstein.
Prosedurnya, tambalan jala polipropilena itu diletakkan di bawah kulit di lokasi hernia. Dalam beberapa hari, tambalan itu akan menyatu dengan jaringan sekitar dan tidak menyebabkan rasa sakit. Bahan polipropilena jarang ditolak oleh tubuh.
Barlin menerangkan, metode Lichtenstein yang telah dipraktikkan di berbagai Negara selama 18 tahun terakhir memiliki sejumlah keuntungan. Antara lain, teknik ini tergolong sebagai operasi tanpa tegangan (tension-free). Artinya penambalan tidak menimbulkan regangan kulit seperti teknik jahitan. Dengan demikian, nyeri pascaoperasi dapat diminimalisasi. Selain itu, prosedurnya yang hanya memerlukan anestesi local membuat biaya operasi lebih terjangkau. Kisarannya, Rp 200 ribu hingga Rp 800 ribu, bergantung pada kondisi hernia.
“Teknik ini juga dinilai lebih aman. Dan yang terpenting, bahan tambalan yang digunakan cukup kuat untuk menahan kambuhnya kembali hernia. Riset menunjukkan, resiko kekambuhan pada teknik ini hanya 0,1-1%,” terang Barlian.
Proses pemulihan pasca operasi, lnjut Barlian, membutuhkan waktu beberapa pekan. Pada 2-3 minggu awal pascaoperasi, pasien tidak diperkenankan mengangkat beban berat. Selanjutnya, pasien bisa beraktivitas biasa.

Disadur dari Media Indonesia, 3 November 2010.

Berminat untuk memiliki kliping digitalnya?  
atau butuh kliping dengan tema lainnya? email : rio_pede@yahoo.com

Jumat, 08 April 2011

Yang Hijau yang Menyehatkan (1)

Jangan sakit hati jika teman sekantor tidak menyambut baik kehadiran Anda saat menderita sakit, terutama influenza. Dalam gedung yang tertutup dan menggunakan penyejuk udara, virus flu akan berputar dalam ruangan sehingga membuat karyawan lain ikut sakit.
Yanu Aryani dari Konsil Bangunan Hijau Indonesia (KBHI) menuturkan, pekerja menghabiskan sekitar 80% waktunya di dalam gedung.
Mereka rawan terkena sindrom bangunan sakit (sick building syndrome/SBS). Gangguan ini menjadi pembicaraan awal 1970-an ketika harga minyak melejit sehingga pengoperasian gedung menjadi mahal akibat borosnya penggunaan energi untuk pendinginan dan pencahayaan. Guna menekan konsumsi enerrgi, para ahli menemukan teknologi insulasi yang membuat gedung kedap udara sehingga energy untuk pendinginan ruangan berkurang. Sejak itu muncul keluhan pusing, iritasi mata dan hidung, rasa gamang, lelah, serta sesak nafas pada sejumlah pengguna gedung.
Keluhan itu dikenal sebagai SBS. “Ketika keluar dari ruangan gejalanya hilang,” kata Faisal Yatim, dokter yang menulis buku tentang SBS.
Selain SBS yang tidak permanen, ada gangguan kesehatan terkait gedung, yaitu building related illness (BRI), yang bersifat permanen, bahkan bias berujung kematian. Gejala awal bias berupa influenza, berlanjut radang paru (pneumonia), hingga kematian.
Penelitian intensif SBS dilakukan oleh Tony Pickering, dokter dari Wythenshawe Hospital, di dekat kota Manchester, Inggris. Hasil penelitian menunjukkan, hanya sedikit gejala SBS terjadi di gedung yang berventilasi alami di mana banyak mkroorganisme. Sebaliknya, gejala SBS ditemukan pada gedung-gedung dengan jumlah mikroorganisme rendah. Kesimpulannya, SBS tidak berkaitan dengan jumlah mikroorganisme.
Pada gedung ber-AC, polusi dalam ruangan, antara lain asap rokok, emisi material (bangunan dan perkakas kantor), partikel dan mikroba, menjadi penyebab SBS, Penyebab BRI adalah mikroorganisme, terutama bakteri Legionella.
Menurut Yanu, SBS bias menurunkan produktivitas karyawan dan keuntungan perusahaan. Karena itu, pekerja dan manajemen kantor perlu mengetahui penyebab dan merekayasa kondisi gedung untuk mengurangi resiko SBS.
Penyerapan polutan
Tanaman dalam ruangan yang semula dianggap sebagai pemanis dan penyegar ruangan ternyata memiliki peran untuk mengurangi resiko SBS.
Hal itu sejalan dengan hasil penelitian Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) awal 1970-an. Penelitian NASA menemukan jenis-jenis tanaman yang mampu mengurangi konsentrasi polutan di dalam ruangan, terutama tiga polutan utama, yaitu benzene, trikhloroetilen (TCE), dan formaldehid.
Benzena terdapat pada tinta, minyak, karet, zat pewarna, deterjen, obat-obatan, serta bahan-bahan mudah meledak, seperti gas pada korek api. TCE terdapat pada zat untuk dry clean, cat pernis, dan beragam lem. Zat TCE dapat menyebabkan kanker hati. Formaldehid ada pada kayu lapis, tisu, kertas pembersih, cairan penghalus kain, lapis bawah karpet, asap rokok, dan minyak tanah.
Bintang Nugroho dari KBHI mengatakan, sejumlah tanaman itu ada di Indonesia, misalnya lidah mertua (Sansevieria), palem bambu, kuping gajah (Aglaonema), beringin, gerbera yang biasa kita jadikan bunga potong, puring (Janet crane), dan hanjuang (Marginata).
Menurut Bintang, efektivitas dan optimasi hasilnya penyerapan polutan bergantung pada posisi tanaman. “Untuk pengaturan letak perlu konsultasi dengan ahlinya,” katanya.
Pada akhirnya, bangunan sehat sebenarnya merupakan salah satu wajah dari bangunan hijau (green building). Selain mengurangi polutan dalam ruangan, agar menjadi gedung sehat, dibutuhkan pengaturan penggunaan energy secara efektif dan pengaturan sirkulasi udara segar dalam ruangan.
“Saat ini banyak klaim green building sekedar untuk pencitraan perusahaan. Untuk menghindari hal itu perlu pihak ketiga untuk melakukan penilaian,” kata Bintang. Menetapkan sebuah gedung sudah “hijau” atau belum merupakan salah satu tugas KBHI.

Disadur dari Kompas, 7 Maret 2011.
Berminat untuk memiliki kliping digitalnya?  
atau butuh kliping dengan tema lainnya? email : rio_pede@yahoo.com
SentraClix

Cari di Blog ini...