Pages

Toko Buku Online Terlengkap

Senin, 28 Februari 2011

Pungli di Pelabuhan Tanjung Priok Rp 1,4 M per Hari


Sebanyak 14 ribu truk dan kontainer yang beroperasi di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, harus menyetor uang siluman kepada aparat Rp 100 ribu per hari.
Pengusaha  truk dan kontainer angkutan barang ekspor-impor mengeluh pungutan liar  (pungli) sepanjang jalan dan keluar-masuk Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Uang pungli yang mengalir dari 14 ribu unit truk dan kontainer yang beroperasi di sana sekitar Rp 1,4 miliar per hari.
“Pungli di pelabuhan  itu bisa mencapai Rp 1,4 miliar per hari. Itu dari 14 ribu unit truk dan kontainer yang beroperasi di Pelabuhan tanjung Priok,” kata ketua Angkutan Khusus Pelabuhan Organisasi Angkutan Darat (Organda) DKI Jakarta Gumilang Tarigan di Jakarta, kemarin.
Truk harus menyetor uang siluman Rp 50 ribu untuk tiap perjalanan. Dalam sehari, tiap truk melakukan dua kali perjalanan, sehingga per hari setiap truk mengeluarkan Rp 100 ribu.
Pemungutan liar itu, menurut Gumilang, antara lain polisi dan preman di sepanjang jalan. Ada juga orang-orang yang sehari-hari berkeliaran di pelabuhan.
Gumilang mengatakan pengusaha dan awak angkutan bisa saja melakukan mogok kerja kalau tidak ada penertiban pungli itu, “Kalau kami mogok kerja, tidak ada satu pun kapal pengangkut kontainer barang ekspor dan impor berangkat dari Pelabuhan Tanjung Priok,” ancamnya.
Pemerintah dan pihak instansi terkait, ujar Gumilang jangan melecehkan keberadaan pengusaha truk dan konainer di pelabuhan.
Truk dan kontainer itu, kata Gumilang, angkutan ekspor dan impor yang merupakan urat adi penggerak roda perekonomian.
“Kalau sampai mogok operasi, akan berdampak pada kenaikan harga barang kebutuhan masyarakat dan industry,” tegasnya.

Dibantah
Humas PT Pelindo II Cabang Tanjung Priok Hambar Wiyadi membantah adanya praktik pungli terhadap pengusaha atau awak truk kontainer di pelabuhan.
“Pungli tidak mungkin terjadi karena kami sudah meniadakan transaksi apapun digerbang (pelabuhan),” ujarnya saat dihubungi, kemarin.
Transaksi pembayaran bagi kendaraan yang keluar masuk pelabuhan seperti truk dan kontainer telah menggunakan sistem prabayar yakni sistem ratio frequency identification (RFId). Itu menggunakan sistem pembayaran dengan kartu prabayar yang sebelumnya telah diisi dengan sejumlah uang di Bank Bukopin. “Kami sebetulnya telah membentuk satuan tugas untuk memberantas pungli, berarti ini salah satgas,” tandad Hambar.
Pernyataan Hambar itu bertentangan dengan fakta di lapangan. Di pintu masuk Jakarta International Container Terminal (JICT) Tanjung Priok, kemarin, para supir kontainer menyerahkan uang kepada petugas Rp 5.000 hingga Rp 10.000.
Orang yang menerima uang itu tidak memakai seragam, berada dibawah plang bertuliskan ‘Dilarang Masuk untuk Truk tanpa Dokumen Kartu Ekspor/SP2.
Terdapat pula orang yang berada di pinggiran pintu masuk yang tidak jauh dari gerbang. “Katanya itu untuk uang jalan,” kata Joni, salah satu sopir kontainer, kemarin.
Masih di sekitar lokasi pelabuhan itu, terlihat satu unit mobil polisi sedang parker. Polisi itu menyaksikan praktik pungli tersebut.


Disadur dari  Media Indonesia, 1 November 2010
Berminat untuk memiliki kliping digitalnya?  
atau butuh kliping dengan tema lainnya? email : rio_pede@yahoo.com

Selasa, 22 Februari 2011

Wirausaha Tidak Bisa Dilatih

Pendidikan dan Latihan untuk Mengurangi Resiko Gagal
Untuk menjalankan usaha sendiri, seseorang harus mempunyai karisma di dalam dirinya. Karisma ini hanya dimiliki orang-orang yang memiliki visi dan impian dan semangat yang luar biasa untuk mewujudkan impiannya itu.
Oleh karena itu, materi-materi ajar kewirausahaan di sekolah, terutama di sekolah menengah kejuruan dan politeknik, tak serta merta akan menghasilkan wirausaha karena mereka tidak bias dilatih atau dididik.
Hal itu dikemukakan ekonom dan pengusaha dari Amerika Serikat, Carl J Schramm di Jakarta Senin (15/6). “Kita tidak bias melatih seseorang untuk memiliki karisma. Ada orang-orang tertentu yang memiliki kepribadian senang mengambil resiko dan inovatif dan gigih mewujudkan impiannya,” kata Schramm yang juga Presiden dan CEO Kauffman Foundation itu.
Yang bisa dilakukan, lanjut Schramm, adalah melatih atau mendidik seseorang yang memiliki bekal ide dan semangat atau bahkan sudah memulai usahanya sedikit demi sedikit untuk membuat rencana atau strategi usaha. Tujuannya, untuk menguragi resiko kegagalan usahanya dan memastikan keberhasilan usaha. Jika memiliki rencana atau strategi usaha yang jelas, dipastikan usahanya pun akan berhasil.
Sekolah-sekolah kejuruan akan sangat berguna dalam hal itu. Tidak hanya itu. Para wirausaha yang sukses juga bisa berbagi ilmu dengan siswa di sekolah-sekolah kejuruan.
“Jadi, belum tentu semua orang bias menjadi entrepreneur karena masih lebih banyak orang yang boro-boro memikirkan inovasi usaha, memikirkan mau makan apa hari ini saja sudah susah,” kata Schramm.
Menjadi seorang wirausaha yang sukses pun, kata Schramm, tidak perlu harus memulai usaha sejak usia muda. Selama ini banyak beredar anggapan keliru bahwa jika ingin sukses, seseorang harus memulai usaha sejak usia 19 atau 21 tahun. Jika tidak, tidak akan pernah berhasil menjadi wirausaha. “Nyatanya, banyak orang yang memulai usaha justru ketika sudah pensiun,” ujarnya.
Schramm juga mengatakan, kewirausahaan harus dilakukan, bukan sekedar diajarkan. Pendidikan kewirausahaan memang perlu diperkenalkan di sekolah-sekolah untuk menginformasikan kepada siswa bahwa kewirausahaan itu penting dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi.
Schramm menambahkan, kewirausahaan juga untuk membentuk adanya keinginan di dalam diri seseorang untuk bekerja sendiri, bukan bekerja kepada orang lain. Sebab, Negara memang butuh meningkatkan jumlah perusahaan-perusahaan baru guna mendorong meningkatnya pertumbuhan ekonomi.
Sementara itu, Staf Ahli Kementrian Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Prof Dr Payaman J Simajuntak saat berbicara dalam seminar “Entrepreneurship Solusi bagi Pengangguran dan Kemiskinan” di Universitas Katolik Widya Mandira, Kupang, Senin, menegaskan di era globalisasi ini perusahaan-perusahaan besar terbukti selalu mengalami kesulitan menghadapi persaingan yang kian tajam. Sebaliknya, kelompok usaha kecil justru mampu menghadapinya karena lebih lincah, fleksibel, serta cepat mengambil keputusan.
“Tantangan bagi Indonesia adalah mempersiapkan tenaga berkemampuan bekerja mandiri yang merupakan bagian dari kelompok usaha kecil tersebut,” ujar Payaman.
Menurut dia, kewirausahaan adalah sikap dan kemampuan melihat sekaligus memanfaatkan berbagai peluang untuk berusaha. Terkait dengan kehebatan perusahaan kecil dan menengah, Payaman menunjuk contoh ekspor Amerika Serikat dan Jerman yang 50 persen diantaranya merupakan produk perusahaan kecil dengan karyawan kurang dari 20 orang.
Sebaliknya, hanya 7 persen ekspor Amerika Serikat bersumber dari perusahaan besar yang mempekerjakan 500 orang atau lebih.

Disadur dari Kompas, 18 November 2010
Berminat untuk memiliki kliping digitalnya?  
atau butuh kliping dengan tema lainnya? email : rio_pede@yahoo.com
SentraClix

Cari di Blog ini...