Pada akhir 2009 dikabarkan bahwa iPod telah terjual 220 juta lebih. Angka yang hampir sama, tapi coba lihat kurun waktunya. Angka itu tercapai hanya dalam waktu kurang dari sembilan tahun. Dan angka ini jelas sudah bertambah karena itu data setahun yang lalu.
Selamat tinggal, Walkman. Sony akhirnya menghentikan produksi pemutar pita kaset paling populer sejagat itu mulai Minggu lalu (sekitar 15 Oktober 2009). Produksi terakhirnya di Jepang adalah pada April lalu.
"Begitu barang terakhir terjual, Walkman jadi sejarah," ujar Hiroko Nakamuru, juru bicara perusahaan elektronik itu, di Tokyo pada Senin lalu.
Keputusan itu sontak menimbulkan reaksi. Di situs microblogging Twitter, Walkman menjadi topik terhangat kelima.
"Ah, saya ingat Walkman saya. Saya tak pernah tanpa musik, selalu di samping saya, dan sekarang tetap sama, hanya dengan iPod," celoteh seorang pengguna Twitter.
"Sony berhenti membuat Walkman, akhir dari sebuah era yang saya ingat," ujar pengguna yang lain.
Walkman adalah produk yang sangat melekat dalam kehidupan keseharian kita. Tubuhnya yang rata-rata seukuran telapak tangan itu memang terbilang gemuk bila dibandingkan dengan kebanyakan pemutar musik digital saat ini.
Tapi tak bisa dipungkiri bahwa Walkman adalah gaya hidup yang mewarnai era 1990-an sampai awal 2000-an. Pada masa kejayaannya, kita banyak melihat pemutar kaset mungil itu tergantung di pinggang atau terselip di saku orang-orang dengan kabel headphone atau earphone yang melilit ke telinga.
Saat itu Sony memang tak sendirian di segmen tersebut. Namun Daisuke Wakabayasi dari Wall Street Journal meyakini bahwa Walkman-lah yang membuat Sony meraih puncak dalam industri.
Walkman diproduksi pertama kali pada Juli 1979. Ia dibangun pada 1978 oleh insinyur di divisi audio, Nobutoshi Kihira, atas permintaan Akio Morita, salah satu bos Sony saat itu.
Morita meminta Kihara menciptakan alat yang bisa memutar opera selama penerbangan. Si bos memang cukup sering melakukan perjalanan melintasi Samudra Atlantik.
Awalnya Morita membenci nama Walkman. Namun para bawahannya mengingatkan bahwa nama itu sudah dipakai dalam promosi dan iklan. Morita pun menyerah, dan Walkman mulai merajalela. Selama tiga dekade, sudah terjual 220 juta unit Walkman di seluruh dunia.
Kini saatnya berhenti, meski tak total amat. sony ternyata sebetulnya tak serta-merta menghentikan produksi Walkman. Perusahaan itu menunjuk sebuah perusahaan di Cina untuk memproduksi Walkman bagi kalangan terbatas, yaitu mereka yang betul-betul tergila-gila kepada produk lawas tersebut. Produk terbatas ini masih akan diedarkan ke Cina, Eropa, dan Amerika.
Ada satu lagi gadget dari Sony yang sebetulnya megap-megap, yaitu pemutar cakram kompak atau lebih dikenal dengan nama Discman Walkman atau Mini Disc Walkman. Tapi Sony tetap mempertahankan produksi gadget itu dalam jumlah kecil, seiring dengan menurunnya popularitasnya.
Anda tahu, era pemutar pita kaset memang sedang menuju titik kritis. Semua terjadi sejak musik atau berkas digital ditemukan dan mulai populer sekitar satu dekade lalu.
Itu adalah momentumnya Apple dengan iPod yang ikonik. Tiga tahun lalu, Apple meningkatkan teknologi iPod dengan menciptakan iPod berlayar sentuh alias iPod Touch. Teknologi iPod Touch ditambah kemampuan telepon lalu melahirkan iPhone.
Sony bukannya tak merengkuh pasar digital ini. Saat Walkman masih hidup, Sony mencoba menciptakan Walkman generasi terbaru yang akan bersaing dengan iPod, yaitu Walkman NWZ-E350.
Pemutar MP3 ini berkapasitas 4 gigabyte (GB) dab 8 GB saja. Harganya masing-masing sekitar Rp 600 ribu dan Rp 700 ribu. Tapi nama besar Walkman rupanya tak cukup ampuh.
Sony, yang melakukan merger dengan Ericsson pada 2001, juga memperluas cakupan Walkman dengan menciptakan telepon selular Sony Ericsson. Untuk pasar ini, langkah Sony cukup jitu. Mereka telah menual 26,5 juta unit ponsel Walkman sejak peluncurannya pada September 2005.
Disadur dari Koran Tempo, 27 Oktober 2010
Berminat untuk memiliki kliping digitalnya?
atau butuh kliping dengan tema lainnya? email : rio_pede@yahoo.com