Pages

Toko Buku Online Terlengkap

Kamis, 03 Maret 2011

Cabai Terpedas di Dunia

Konsumen cabai di Indonesia saat ini benar-benar tengah dilanda kecemasan. Bayangkan, untuk mengkonsumsi sambal atau rendang sementara waktu terpaksa harus mengurangi volume buah pedas ini karena harganya selangit mencapai Rp 100.000/kg. Buah bumbu penyedap ini, harganya merangkak terus karena di daerah sentra pertaniannya sedang kosong. Kekosongan terjadi oleh bencana alam banjir dan kekeringan. Di beberapa sentra cabai juga terkena bencana erupsi, Merapi atau Bromo.

Terlepas dari kenaikan harga yang membumbung, peneliti di New Mexico State University, Amerika Serikat, meneliti cabai terpedas di dunia. Dari penelitian itu mereka menemukan bibit jolokia sebagai cabai terpedas di dunia. Cabai ini mengalahkan 275 species lainnya, yang dikoleksi dari berbagai belahan bumi, khususnya daerah tropis dan subtropis.

Buah chilicile lada ini berdasarkan sejarah awalnya berasal dari Negara bagian Assam, India. Atas rekor rasanya tersebut, tanaman ini menerima penghargaan dari Guinness World Records, sebagai bentuk pengakuan rasa cabai terpanas di dunia melewati juara sebelumnya red savina.

Dalam uji replikasi unit panas dan pedas, Scoville (SHUs), bhut jolokia mencapai satu juta SHUs. Sukarelawan yang mencoba mengumsumsinya bisa pingsan selama tiga hari tiga malam karena panas dan sakit perut. Juara sebelumnya savina merah (red savina), yang rasa pedasnya diukur hanya mencapai angka 577.000 SHUs. Dr Paulus Bosland, Direktur Chili Pepper Institute di New Mexico State University Departemen Ilmu Tanaman dan Lingkungan memperoleh benih bhut jolokia saat berkunjung ke India pada tahun 2001.

Bosland mengungkapkan, sejak tanaman bhut jolokia ditemukan untuk menghindari serangan hama serangga dibiakkan di bawah kandang kelinci selama tiga tahun. Tujuannya untuk menghasilkan benih yang cukup, untuk menyelesaikan tes lapangan yang diperlukan. “Nama bhut jolokia diterjemahkan dari bahasa aslinya, berarti ‘hantu chile’,” kata Bosland.

Ia menambahkan, konsenntrasi panas bhut jolokia cenderung digunakan pada industri makanan sebagai bumbu atau obat penahan rasa sakit, dalam kemasan makanan spesial. Bila dibandingkan dengan cabai keriting, yang sering digunakan untuk bumbu balado masakan Padang, rasanya tidak ada apa-apanya. Bagi orang dengan sindrom iritasi usus besar karena sentuhan rasa pedas/panas sebaiknya jangan coba-coba menyentuh makanan ini karena bisa timbul rasa sakit lebih tinggi daripada rasa pedas biasanya. Penelitian lengkap dan jumlah reseptor rasa skit cabai, menurut hasil penelitian akan diterbitkan, 11 Juni 2011.

Penelitian dikembangkan kepada para konsumen, yang harus mendapatkan terapi khusus. Satu dari lima orang dewasa Inggris, memiliki sindrom iritasi usus (IBS), setelah mengonsumsi cabai kondisi kesehatannya sangat menghawatirkan.  Gejala IBS meliputi nyeri perut, kembung dan masalah usus seperti sembelit atau diare. Penelitian sementara baru menunjukkan bahwa orang dengan  gejala IBS memiliki berbagai tingkatan yang biasanya menyerang serabut saraf reseptor. Untuk meneliti lebih jauh dampak dari makanan pedas ini, para peneliti berhasil memisahkan senyawa pedas. Rasa pedas itu dapat diurai menjadi dua bagian protein yaitu, TPRV I “antagonis” dan “Capcaisin”.

Disadur dari Pikiran Rakyat, 20 Januari 2011
Berminat untuk memiliki kliping digitalnya?  
atau butuh kliping dengan tema lainnya? email : rio_pede@yahoo.com

Rabu, 02 Maret 2011

IBNU AL-SAFFAR ASTRONOM KORDOBA (1)

Ibnu Al-Saffar berhasil membuat perhitungan akurat dalam menentukan arah kiblat.

Prestasi pakar astronomi Muslim menarik minat. Tak hanya kalangan cendekiawan, tapi juga penguasa di Barat. Salah satu penguasa yang tertarik pada karya dan kontribusi astronom Muslim adalah Raja Alfonso X dari Spanyol. Sang raja bahkan memiliki sederet pakar yang bertugas menelaah ilmu astronomi.

Mereka juga mendapatkan tugas untuk mengkaji kembali karya pemikiran astronom Muslim. Termasuk di dalamnya, risalah Ibnu al-Saffar, yang menjadi rujukan penting. Dalam tulisannya, Ibnu al-Saffar mengupas beragam kegunaan perangkat astronomi yang bernama astrolabe.

Astrolabe adalah peralatan astronomi yang digunakan untuk tujuan-tujuan teoritis dan praktis, diantaranya alat peraga dan penentu waktu serta lokasi yang tepat. Ibnu al-Saffar memperkenalkan survey geografis dengan menggunakan astrolabe. Langkahnya ini dianggap sebagai terobosan besar.

Keistimewaan lain dari karya Ibnu al-Saffar adalah menggunakan metode triangulasi dalam menentukan koordinat dan jarak suatu tempat. Penemu triangulasi sebenarnya bangsa Romawi. Namun, mereka tak menerapkan temuannya tersebut untuk mengukur jarak. Para sarjana Muslim, termasuk Ibnu al-Saffar, memanfaatkannya dengan baik.

Yaitu, dalam penghitungan jarak ataupun lingkar bumi. Beragam terobosan dan pemikiran Ibnu al-Saffar yang terekam di dalamnya, membuat karya dia masih digunakan di Eropa hingga abad ke-15. Ia dipandang sebagai ilmuwan yang berhasil mengaitkan bidang astronomi dengan disiplin ilmu bumi.

Menurut sejarawan Said al-Andalusi, risalah Ibnu al-Saffar ditulis dengan kalimat yang ringkas, jelas, dan komprehensif. Begitu pentingnya, risalah itu beberapa kali ditulis ulang serta diterjemahkan oleh sarjana-sarjana Eropa. Johannes Hispensis dan Plato dari Tivoli (1134-1145 mengalihbahasakan ke dalam bahasa Latin.

Plato memberikan kesaksian dalam bab pengantarnya bahwa karya Ibnu al-Saffar merupakan risalah berbahasa Arab terbaik yang pernah ia baca. Versi bahasa Ibraninya dibuat oleh Profeit Tibbon yang dikenal pula dengan nama Jacob ben Makhir. Selanjutnya, ilmuwan J Millas Valicrossa menulis ulang karya ini.

Ia pun mengeditnya dan menerjemahkan karya bahasa Arab ini ke bahasa Katalan pada 1955. Upaya penelaahan kembali ataupun pengembangan metode dan risalah baik yang terjadi di Timur dan Barat, menunjukkan pengaruh luar biasa dari karyatersebut. Hal ini tentu tak lepas dari kemampuan jenius dari penulisnya, Ibnu al-Saffar.

Ibnu al-Saffar tercatat sebagai ahli astronomi, matematika, dan geografi Muslim berasal dari Spanyol. Ia menetap di Kordoba, yang menjadi tempatnya berkhidmat dalam kerja keilmuan. Nama lengkapnya Abu al-Qasim Ahmad ibnu Abd Allah ibnu Umar al Ghafiqi al-Saffar al-Andalusi.

Jejak keilmuannya dapat ditelusuri pada 1007 Masehi, tepatnya di sekolah sains bernama Maslama dari Madrid. Pendirinya adalah seorang ilmuwan astronomi terkemuka, yakni Maslamah ibnu Ahmad al-Majriti. Saat itu, Kordoba telah menjadi salah satu pusat pengembangan ilmu pengetahuan di Spanyol.

Dengan mengasah ketajaman intelektualnya di Maslama, Ibnu al-Saffar kemudian mewujud sebagai figur penting di ranah keilmuan. Selain menulis, ia mengjar di sejumlah lembaga pendidikan Kordoba. Ia menularkan ilmu kepada anak didiknya di bidang aritmatika, geometri, dan astronomi.

Situasi politik yang tidak kondusif disusul perang saudara di Andalusia, yang menandai berakhirnya era pemerintahan Dinasti Umayyah, memaksanya pindah ke Denia. Ini adalah kota kecil terletak di semenanjung Iberia, Spanyol. Dia menghabiskan masa hidupnya di sana, tetap berkarya, hingga meninggal dunia pada 1035 Masehi.

Ibnu al-Saffar banyak menelurkan karya dan hasil riset. Tak jarang, dia berkolaborasi dengan gurunya, al-Majriti. Di antara kerja sama itu, yakni pengembangan lebih lanjut metode penghitungan matematika untuk pengamatan bintang dan table astronomi yang sebelumnya dirintis al-Khawarizmi.
Mereka pun mengumpulkan kembali lembaran-lembaran tercecer dari kitab Zij al Sindhind milik ilmuwan besar ini, serta memberikan komentar. Zij disebut-sebut sebagai mahakarya al-Khawarizmi, yang berbasis pada table astronomi temuan peradaban India kuno yang tertera pada buku Disshanta, buah pemikiran Arya Bhata dan Brahmagupta.

Upaya Ibnu al-Saffar serta al-Majriti terbukti begitu dihargai untuk mempertahankan Sindhind al-Khawarizmi, mengingat teks aslinya banyak yang hilang. Tabel astronomi itu lanrtas menggantikan semua table Yunani serta India yang sebelumnya digunakan. Melalui langkahnya itu Ibnu al-Saffar berkontribusi besar bagi umat Islam di dunia.

Dia berhasil membuat perhitungan akurat dalam penentuan arah kiblat. Seperti diketahui, pelaksanaan shalat dan ibadah umat Islam sangat berkaitan dengan ketepatan arah kiblat ke Makkah. Kontribusi luar biasanya itu masih relevan sampai abad modern sekarang ini.

Misalnya, kibla shalat umat Muslim di Kordoba berkoordinat 30 derajat ke selatan berdasarkan azimuth dari sudut terbitnya matahari. Tak hanya itu, Ibnu al-Saffar pun berperan mendesain instrument jam matahari. Kini, jam matahari rancangannya tetap dipertahankan di Museo Arqueologico Provincial of Cordoba, Spanyol.

Pada masanya, perangkar jam matahari digunakan sebagai penanda tibanya waktu salat Zuhur atau Ashar. Thomas F Glick dan Steven John Livesey dalam buku Medievel Science, Technology, and Medicine, meyakini Ibnu al-Saffar bekerja sama dengan beberapa ilmuwan lainnya dalam mengerjakan konstruksi jam matahari itu.


Disadur dari Republika, Jumat, 30 Juli 2010
Berminat untuk memiliki kliping digitalnya?  
atau butuh kliping dengan tema lainnya? email : rio_pede@yahoo.com
SentraClix

Cari di Blog ini...